PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) menyampaikan koreksi atas laporan keuangan interim untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, ditandatangani Presiden Direktur Suryo Pratomo dan Direktur Kisyuwono pada 29 Oktober 2026. Penjualan bersih tercatat Rp14,32 triliun, naik dari Rp13,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bersih melonjak 22,2 persen menjadi Rp964,9 miliar dari Rp789,7 miliar, didorong oleh beban keuangan yang justru mengecil menjadi Rp300 miliar dari Rp355,9 miliar serta keuntungan selisih kurs Rp150 miliar. Laba per saham naik ke Rp276,9 dari Rp226,6 setahun sebelumnya.

Dari sisi posisi keuangan, total aset perseroan per 30 September 2026 tercatat Rp24,83 triliun, naik dari Rp21,67 triliun di akhir 2025, terutama karena aset tetap bertambah menjadi Rp11,82 triliun dari Rp10,56 triliun dan uang muka pembelian aset tetap senilai Rp1,15 triliun, menandakan perluasan kapasitas produksi masih berjalan. Total liabilitas naik lebih cepat, menjadi Rp13,67 triliun dari Rp11,21 triliun, dengan utang bank jangka pendek melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp1,25 triliun dari Rp574,8 miliar, sementara utang bank jangka panjang justru sedikit turun menjadi Rp3,89 triliun. Ekuitas tumbuh menjadi Rp11,17 triliun dari Rp10,46 triliun, setelah perseroan membagikan dividen tunai Rp277,7 miliar sepanjang periode.

Pada laporan arus kas, kas dan setara kas turun menjadi Rp827,8 miliar dari Rp925,2 miliar di akhir tahun lalu. Arus kas dari aktivitas operasi naik menjadi Rp1,19 triliun dari Rp1,09 triliun, sementara arus kas untuk investasi membesar menjadi negatif Rp1,61 triliun, terutama untuk uang muka pembelian aset tetap Rp892,3 miliar dan perolehan aset tetap Rp746,4 miliar. Berbeda dari tahun lalu yang melunasi utang obligasi senilai Rp2,82 triliun, pada periode ini perseroan tidak membayar utang obligasi dan justru menerima pinjaman bank jangka panjang baru Rp464,6 miliar.