PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) menjawab surat permintaan penjelasan dari Bursa Efek Indonesia tertanggal 14 Oktober 2026 melalui surat yang ditandatangani Direktur Yanry Musa. Perseroan memastikan proses produksi kembali tambang batu bara di Pulau Bunyu, Kalimantan Utara, sudah berjalan sesuai rencana. Pengupasan tanah penutup dimulai sejak 2 Oktober 2026, dan perusahaan menargetkan mulai menambang serta mengangkut batu bara ke stockpile pada 16 Oktober 2026, tanpa ada perubahan jadwal dari yang disampaikan sebelumnya. Dari enam tahapan menuju produksi yang dilaporkan ke Bursa, empat tahap sudah selesai yaitu mobilisasi alat berat dan tenaga kerja ke lokasi tambang, pemeriksaan kesiapan keselamatan kerja, dan perbaikan jalan tambang, sementara kontrak jasa pertambangan sebagian besar sudah diteken kecuali kontrak tongkang yang masih difinalisasi, dan penambangan batu bara ke stockpile ditargetkan mulai 18 Oktober 2026.
Perseroan juga menjelaskan alasan kompensasi senilai US$1,25 juta dari kegagalan investasi di Sudan Project belum tercatat dalam laporan keuangan sejak akhir 2025 hingga Juni 2026. Berdasarkan addendum perjanjian bertanggal 2 Desember 2025, dana kompensasi itu disepakati dibayarkan sekaligus paling lambat 31 Desember 2035, terpisah dari pengembalian pokok pinjaman, sehingga belum diakui sebagai aset dalam laporan keuangan saat ini. Soal rencana pengembalian dana investasi senilai 104,57 persen dari total ekuitas per 31 Desember 2025, Perseroan menyatakan masih menjadwalkan pertemuan dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk membahas apakah keputusan tersebut memerlukan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu, dan belum ada hasil koordinasi sampai tanggal surat ini.
Untuk membiayai kegiatan produksi, Perseroan mengandalkan dua sumber dana. Dari sisa piutang tahun 2026 senilai US$4,15 juta per 31 Maret 2026, perusahaan telah menerima pembayaran lebih dari 50 persen dari Energy Coal Resources Pte. Ltd., pihak yang ditunjuk oleh Massicot Trade Limited, dengan sisanya wajib diterima paling lambat 31 Desember 2026. Sumber kedua adalah penjualan persediaan batu bara dengan nilai tercatat US$1,75 juta, namun realisasinya masih menunggu penyelesaian administrasi di sistem Minerba On-line Monitoring System, meski pembeli sudah membayar uang muka. Perseroan menilai modal kerja saat ini masih cukup untuk membiayai tahap awal produksi hingga batu bara pertama terjual, tetapi mengakui belum menerima arus kas dari pemegang saham pengendali. Perseroan juga mengonfirmasi bahwa Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan untuk tahun buku 2025, yang belum pernah digelar, baru akan dilaksanakan pada 18 November 2026.
