PT Arsy Buana Travelindo Tbk (HAJJ), perusahaan penyedia jasa pendukung perjalanan ibadah haji dan umrah, menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Bersamaan dengan itu, manajemen juga mengirim surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia karena total aset dan total liabilitas Perseroan berubah lebih dari 20 persen dibandingkan kuartal sebelumnya, sesuai Peraturan Bursa Nomor I-E. Surat bernomor 086/ABT-CSL/X/2026 itu ditandatangani oleh Agung Prabowo, Direktur Keuangan dan Administrasi HAJJ.
Menurut surat tersebut, total aset Perseroan naik 33,82 persen, dari Rp541,36 miliar pada akhir Juni 2026 menjadi Rp724,43 miliar pada akhir September 2026. Kenaikan ini terutama didorong oleh piutang usaha pihak ketiga yang melonjak 323,34 persen, dari Rp44,98 miliar menjadi Rp190,43 miliar, serta kas dan setara kas yang bertambah 206,90 persen menjadi Rp94,31 miliar. Di sisi lain, total liabilitas naik lebih tajam lagi, yakni 60,48 persen, dari Rp322,38 miliar menjadi Rp517,35 miliar, terutama karena utang usaha kepada pihak ketiga yang membengkak 101,91 persen dari Rp163,54 miliar menjadi Rp330,20 miliar. Manajemen menyebut perubahan ini sebagai bagian dari siklus operasional normal perusahaan.
Laporan laba rugi menunjukkan pendapatan Perseroan untuk sembilan bulan pertama 2026 turun menjadi Rp657,67 miliar, dari Rp727,25 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Laba bruto ikut tergerus dari Rp91,23 miliar menjadi Rp48,58 miliar, sementara laba bersih periode berjalan turun tajam dari Rp35,50 miliar menjadi Rp8,82 miliar, membuat laba per saham dasar merosot dari Rp14,38 menjadi Rp3,57. Di sisi arus kas, kegiatan operasi justru membaik signifikan, dari defisit Rp60,53 miliar pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi surplus Rp77,96 miliar pada periode yang sama tahun ini.
