Alkindo Naratama Tbk (ALDO) menyampaikan laporan keuangan interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan bersih perusahaan produsen kemasan dan kertas ini tercatat Rp1,88 triliun, naik 21 persen dari Rp1,56 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih yang menjadi bagian pemilik perusahaan melonjak jauh lebih tinggi, dari Rp21,26 miliar menjadi Rp172,72 miliar. Jika ditambah bagian pemegang saham minoritas di anak usaha, total laba bersih konsolidasi naik dari Rp21,36 miliar menjadi Rp174,35 miliar. Laba per saham dasar pun terangkat dari Rp7,87 menjadi Rp63,95.

Kenaikan laba ini bukan cuma karena penjualan yang lebih besar. Laba kotor naik dari Rp225,61 miliar menjadi Rp412,45 miliar, sehingga marjin laba kotor terhadap penjualan membesar dari 14,5 persen menjadi 21,9 persen. Laba usaha pun melonjak dari Rp60,99 miliar menjadi Rp222,06 miliar. Di sisi aset, total aset perusahaan naik 9 persen menjadi Rp2,28 triliun, dengan aset lancar naik 20 persen yang menurut perusahaan terutama berasal dari piutang usaha yang bertambah seiring kenaikan penjualan.

Di sisi liabilitas, utang jangka panjang justru turun 27 persen dari Rp180,15 miliar menjadi Rp130,85 miliar. Perusahaan menyebutkan penurunan ini terjadi karena pembayaran utang bank jangka panjang yang sebelumnya digunakan untuk membiayai pembangunan pabrik. Ekuitas pemegang saham naik 16 persen menjadi Rp1,228,33 miliar, dan kas serta setara kas di akhir September 2026 tercatat Rp90,56 miliar, naik dari Rp68,86 miliar di awal tahun. Selama periode ini, ALDO juga membeli kembali sebagian sahamnya senilai Rp504,7 juta dan membagikan dividen senilai Rp1,4 miliar.