PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, ditandatangani Direktur Utama Andrew Kam dan Direktur Rita pada 23 Oktober 2026. Total aset perseroan tercatat Rp2.276,50 triliun, naik 23,27 persen atau sekitar Rp429,70 miliar dibandingkan akhir 2025. Dalam surat penjelasan ke Otoritas Jasa Keuangan, manajemen menyebut kenaikan ini terutama berasal dari kas dan bank yang bertambah Rp393,06 miliar dari aktivitas operasi dan pendanaan, piutang usaha naik Rp25,99 miliar, persediaan naik Rp34,33 miliar, serta uang muka dan biaya dibayar di muka naik Rp16,74 miliar, sementara nilai buku aset tetap justru turun Rp76,05 miliar akibat penyusutan. Total liabilitas naik lebih kecil, 7,05 persen menjadi Rp260,28 miliar, sehingga tidak melewati ambang 20 persen yang mewajibkan penjelasan tambahan ke bursa.

Dari sisi laba rugi, pendapatan sembilan bulan 2026 naik 7,5 persen menjadi Rp839,65 miliar dari Rp780,81 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun beban pokok pendapatan naik lebih cepat, 13,5 persen menjadi Rp696,26 miliar, sehingga laba kotor justru turun 14,5 persen menjadi Rp143,39 miliar dan laba usaha turun 18,4 persen menjadi Rp114,92 miliar. Setelah memperhitungkan beban keuangan, pajak final, dan laba selisih kurs, laba bersih periode ini tercatat Rp110,27 miliar, turun 9,8 persen dari Rp122,19 miliar tahun lalu, sementara laba per saham dasar turun dari Rp14,08 menjadi Rp12,63.

Pada ekuitas, perseroan melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) senilai Rp320 miliar, menerbitkan 640 juta saham baru sehingga total saham beredar naik dari 8,68 miliar menjadi 9,32 miliar lembar. Setelah dipotong biaya emisi Rp341,03 juta, dana yang masuk ke ekuitas bersih sekitar Rp319,66 miliar. Perseroan juga membagikan dividen Rp17,36 miliar dan menyisihkan Rp16,8 miliar untuk dana cadangan dari saldo laba. Pada laporan arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi melonjak menjadi Rp214,48 miliar dari Rp124,29 miliar tahun lalu, sementara belanja aset tetap anjlok menjadi hanya Rp266,75 juta dari Rp361,75 miliar, menandakan proyek penambahan armada besar pada 2025 sudah rampung.