PT DFI Retail Nusantara Tbk (HERO), perusahaan ritel yang sebelumnya bernama PT Hero Supermarket Tbk, menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan bersih perusahaan naik 15,8 persen menjadi Rp4,07 triliun, dari Rp3,51 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor juga naik dari Rp1,62 triliun menjadi Rp1,79 triliun. Laba bersih untuk periode tersebut tercatat Rp91,34 miliar, naik 29,9 persen dari Rp70,34 miliar, dan laba per saham naik dari Rp17 menjadi Rp22.
Namun kenaikan laba bersih itu tidak sepenuhnya berasal dari kinerja operasional yang membaik. Laba sebelum pajak dari operasi yang masih berjalan justru turun 20,2 persen menjadi Rp59,15 miliar, dari Rp74,11 miliar, karena beban usaha ikut naik seiring kenaikan pendapatan. Laba bersih yang naik ke permukaan lebih banyak ditopang oleh beban pajak penghasilan yang jauh lebih kecil, dari Rp39,02 miliar menjadi hanya Rp10,49 miliar, serta sumbangan laba Rp42,68 miliar dari operasi yang dihentikan, yaitu unit usaha yang sedang dilepas perusahaan dan saat ini tercatat sebagai aset senilai Rp42,42 miliar yang dimiliki untuk dijual.
Dari sisi posisi keuangan, total aset perusahaan turun menjadi Rp4,29 triliun dari Rp4,42 triliun, terutama karena kas dan setara kas menyusut tajam, dari Rp47,09 miliar menjadi Rp25,71 miliar. Perusahaan juga mengurangi pinjaman bank jangka pendek dari Rp580 miliar menjadi Rp495 miliar, sehingga total liabilitas turun dari Rp2,77 triliun menjadi Rp2,54 triliun. Ekuitas membaik dari Rp1,66 triliun menjadi Rp1,75 triliun karena akumulasi kerugian menyusut dari Rp2,07 triliun menjadi Rp1,98 triliun. Arus kas dari aktivitas operasi turun dari Rp311,64 miliar menjadi Rp219,28 miliar, sementara belanja modal untuk aset tetap naik dari Rp87,76 miliar menjadi Rp144,11 miliar, dan pembayaran untuk aktivitas pendanaan turun dari Rp451,37 miliar menjadi Rp175,82 miliar karena pelunasan pinjaman yang lebih kecil.
