PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) menggelar Public Expose Tahunan pada Kamis, 17 September 2026, pukul 14.00 sampai 15.30 WIB secara virtual melalui Ms Teams. Sebanyak 16 peserta hadir di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan, terdiri dari investor, analis, serta wartawan dari Bisnis Indonesia dan Kontan. Presiden Direktur Dwi Swasono dan Direktur Yoshendri tampil sebagai pembicara memaparkan ikhtisar kinerja operasional dan keuangan, dengan Corporate Secretary Listiana A. Kurniawati sebagai moderator sesi tanya jawab.
Menjawab pertanyaan analis soal margin laba yang terus menurun beberapa tahun terakhir dan berlanjut di kuartal pertama tahun buku 2026, Yoshendri menjelaskan bahwa perseroan mencatat laporan keuangan dalam dolar AS namun bertransaksi dalam rupiah sesuai aturan di Indonesia, sementara pembelian inventori alat berat dilakukan dalam dolar AS. Ketika rupiah melemah, biaya pembelian naik, tetapi perseroan tidak selalu bisa menaikkan harga jual karena harus mempertimbangkan persaingan, sehingga marjin penjualan tergerus. Manajemen menyebut sedang mengevaluasi apakah akan tetap memakai dolar AS dalam transaksi atau beralih sepenuhnya ke rupiah. Harga komoditas seperti batu bara, sawit, dan pulp juga disebut berpengaruh besar terhadap bisnis alat berat perseroan.
Dwi Swasono mengungkapkan pangsa pasar Hexindo turun dari 19,3 persen pada tahun buku 2020 menjadi 16,7 persen pada tahun buku 2025, akibat makin banyaknya pemain baru dari luar Jepang, termasuk produsen alat berat asal Tiongkok. Untuk tahun 2026, manajemen menargetkan pangsa pasar sekitar 18 persen dengan sektor agro sebagai kontributor terbesar. Untuk target keuangan, manajemen membidik pendapatan US$589 juta dan laba bersih US$18,4 juta sepanjang 2026, sementara realisasi kuartal pertama yang berakhir Juni 2026 baru mencatat pendapatan US$113,8 juta dan laba bersih US$4,9 juta. Manajemen menyebut pesanan pelanggan tambang yang sempat tertahan karena menunggu izin RKAB batu bara kini bisa mulai direalisasikan sampai Februari 2027, terutama untuk ekskavator kelas 120 ton dan 200 ton.
Perseroan juga mengonfirmasi rencana perubahan nama merek Hitachi menjadi LANDCROS yang efektif berlaku 1 April 2027, sebagai langkah ekspansi dari fokus ekskavator ke lini alat berat lain, dengan produk dan kualitas yang disebut tidak berubah. Di luar itu, Hexindo tengah merambah lini bisnis baru seperti truk Foton, alat berat WIXIM, dan aplikasi berbasis kecerdasan buatan, yang menurut manajemen ditujukan menambah portofolio produk tanpa mengorbankan fokus pada bisnis inti.
