PT Harapan Duta Pertiwi Tbk (HOPE) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit per 30 September 2026, disertai surat penjelasan kepada Bursa Efek Indonesia karena perubahan pos total aset dan total liabilitas melampaui 20 persen dibanding akhir 2025. Total aset perusahaan naik 38 persen dari Rp407,78 miliar menjadi Rp563,95 miliar, sedangkan total liabilitas melonjak lebih tajam, 67 persen, dari Rp270,57 miliar menjadi Rp452,57 miliar.

Manajemen menjelaskan kenaikan liabilitas terutama berasal dari pencairan pinjaman bank di anak usaha. Pinjaman bank jangka pendek naik dari Rp6,47 miliar menjadi Rp67,49 miliar, sementara pinjaman bank jangka panjang melonjak dari Rp3,69 miliar menjadi Rp152,53 miliar, naik lebih dari 40 kali lipat. Dana pinjaman itu ikut mendorong kas dan setara kas naik 141 persen menjadi Rp151,10 miliar serta uang muka dan biaya dibayar di muka naik 297 persen menjadi Rp76,16 miliar untuk pembelian aset tetap. Di sisi lain, liabilitas sewa jangka pendek turun 50 persen dan pembiayaan konsumen jangka pendek turun 44 persen karena perusahaan mengalihkan sebagian pembiayaan konsumennya menjadi pinjaman bank.

Laporan ini juga memuat catatan konsolidasi anak usaha PT Tambang Meranti Mulia Sejahtera (TMMS). Perusahaan hanya memiliki 4,30 persen saham TMMS senilai Rp9 miliar untuk 150 juta saham yang dibeli pada 30 Juli 2025, namun sejak 12 Desember 2025 seluruh pemegang saham TMMS sepakat memberi Direktur Utama HOPE, Kevin Jong, kewenangan mengarahkan kebijakan keuangan dan operasional TMMS tanpa mengubah persentase kepemilikan. Karena itu, aset dan kinerja TMMS dikonsolidasikan ke laporan keuangan HOPE sejak tanggal tersebut, dan sejak diakuisisi TMMS menyumbang pendapatan Rp13,13 miliar serta laba Rp2,67 miliar ke laporan konsolidasian.