PT Intanwijaya Internasional Tbk (INCI) menyampaikan laporan keuangan interim untuk periode enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026 kepada Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Laporan ini telah direviu secara terbatas oleh Kantor Akuntan Publik Arman Eddy Ferdinand dan Rekan, dengan partner penanggung jawab Eddy Pianto Simon, dan hasilnya adalah kesimpulan reviu tanpa modifikasian alias tidak ditemukan hal yang membuat akuntan meragukan kewajaran laporan. Total aset perusahaan naik dari Rp559,13 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp603,56 miliar per 30 Juni 2026.

Perusahaan juga mengirim surat khusus ke bursa dan OJK karena total liabilitasnya naik lebih dari 20 persen, ambang batas yang mewajibkan penjelasan tambahan sesuai Peraturan Nomor 1-E. Total liabilitas tercatat Rp99,98 miliar per 30 Juni 2026, naik Rp19,32 miliar atau 23,95 persen dari Rp80,67 miliar per akhir 2025. Manajemen menjelaskan kenaikan itu terutama berasal dari utang usaha ke pihak ketiga yang naik dari Rp62,18 miliar menjadi Rp82,86 miliar, atau bertambah Rp20,75 miliar setara 33,41 persen, karena fluktuasi harga bahan baku dan pembelian yang mendekati tanggal cut off pelaporan.

Di sisi kinerja usaha, penjualan neto naik dari Rp169,12 miliar pada semester I 2025 menjadi Rp235,20 miliar pada semester I 2026, mendorong laba kotor naik dari Rp33,44 miliar menjadi Rp50,27 miliar. Laba bersih yang menjadi hak pemilik perusahaan melonjak dari Rp8,54 miliar menjadi Rp27,78 miliar, dengan laba per saham dasar naik dari Rp41 menjadi Rp134. Ekuitas perusahaan bertambah dari Rp478,46 miliar menjadi Rp503,58 miliar, sementara kas dan setara kas menyusut dari Rp172,84 miliar menjadi Rp149,04 miliar pada periode yang sama.