PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menggelar public expose tahunan dan konferensi pers di Jakarta pada 10 September 2026, dihadiri 193 peserta di luar jajaran manajemen dan karyawan perseroan. Sesi dibuka moderator dari Bursa Efek Indonesia pukul 11.00 WIB dan ditutup pukul 12.00 WIB, dengan Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Bernardus Irmanto, Wakil Presiden Direktur dan Chief Operation and Infrastructure Officer Abu Ashar, Direktur dan Chief Project Officer Muhammad Asril, serta Direktur dan Chief Financial Officer Rizky Andhika Putra menjawab langsung pertanyaan investor dan media.

Dari sisi operasi, manajemen menyebut Furnace 3 Rebuild di Sorowako sudah rampung sejak Juni 2026 dan kadar nikel hasil tambang berada di sekitar 1,82 persen, level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Dengan kondisi itu, perseroan optimistis target produksi 2026 sebesar 67.645 metrik ton nickel matte tetap tercapai. Untuk proyek HPAL Pomalaa, fasilitas sudah masuk tahap commissioning dengan first feed dijadwalkan mulai 15 September 2026, dan mechanical completion yang semula ditargetkan Desember kini berpotensi maju dua hingga tiga bulan menjadi September atau Oktober, menuju kapasitas penuh sekitar 120.000 ton MHP pada 2027. Di Morowali, progres HPAL mencapai sekitar 36 persen pada semester pertama dengan dua autoclave sudah tiba di lokasi, mechanical completion line pertama ditargetkan akhir 2026 menuju kapasitas 60.000 hingga 66.000 ton MHP, sementara di Sorowako pembangunan slurry pipeline sepanjang sekitar 60 kilometer dan jetty untuk mendukung HPAL masih berjalan.

Dari sisi keuangan, Chief Financial Officer Rizky Andhika Putra mengungkapkan kas dan setara kas perseroan per semester I 2026 tinggal US$111 juta, sementara total belanja modal tahun ini diperkirakan hampir US$700 juta. Kebutuhan investasi diproyeksikan memuncak pada 2027 menjadi sekitar US$1,1 miliar terutama untuk pembangunan fasilitas HPAL baru, lalu turun ke sekitar US$800 juta pada 2028. Perseroan sudah mengantongi committed standby facility berupa Sustainability-Linked Loan senilai US$750 juta, namun manajemen menegaskan fasilitas itu baru menutup sebagian kebutuhan sehingga pendanaan tambahan masih akan dicari secara bertahap. Soal dividen, manajemen menyatakan fokus 2026-2027 tetap pada penyelesaian proyek pertumbuhan tepat waktu dan sesuai anggaran, sementara keputusan pembagian dividen tahun buku 2026 akan terus dievaluasi berkala dengan mempertimbangkan pergerakan harga, efisiensi pendanaan, dan efisiensi belanja modal.