Menteri Investasi dan Hilirisasi yang juga Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi di Indonesia selama dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mencapai Rp3.923,2 triliun, hampir menyentuh Rp4.000 triliun. Pernyataan itu disampaikan Rosan dalam Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026). Angka ini penting karena investasi menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5 persen, setelah konsumsi rumah tangga.

Rosan menjelaskan hitungan tersebut dihimpun sejak kuartal IV 2024 sampai kuartal III 2026, dan ia menegaskan angka itu merupakan dana yang benar-benar sudah dibelanjakan di lapangan, bukan sekadar nota kesepahaman atau kesepakatan di atas kertas. Capaian ini menjadi modal awal untuk mengejar target total investasi Rp13.032,8 triliun yang dipatok selama lima tahun masa jabatan Presiden Prabowo Subianto.

Salah satu pendorong utamanya adalah sektor hilirisasi, yaitu industri yang mengolah bahan mentah seperti nikel menjadi barang bernilai lebih tinggi sebelum dijual ke pasar. Porsi investasi hilirisasi terhadap total investasi naik dari 25 persen pada 2024 menjadi 31 persen sepanjang 2026, dan sempat menyentuh 34 persen pada kuartal III 2026. Rosan menyebut 78 persen dari investasi hilirisasi itu justru mengalir ke luar Pulau Jawa, terkonsentrasi di Sulawesi dan Maluku Utara, dengan nikel sebagai komoditas andalan karena Indonesia menguasai sekitar 46 persen cadangan nikel dunia.