Kementerian Perdagangan memfasilitasi pengiriman 7 ton cabai rawit dari Probolinggo, Jawa Timur, ke Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara. Langkah ini diambil untuk mengurangi kesenjangan harga cabai rawit antara kedua daerah sekaligus memperkuat pasokan menjelang Natal 2026 dan Tahun Baru 2027. Berdasarkan pemantauan Kemendag per 27 Oktober 2026, harga cabai rawit di Halmahera Utara berada di kisaran Rp150.000 per kilogram, jauh di atas harga di daerah penghasil seperti Probolinggo.
Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut pengiriman ini sebagai upaya menghubungkan sentra produksi dengan daerah yang kekurangan pasokan, sekaligus menjaga stabilitas harga barang kebutuhan pokok. Fasilitasi ini melibatkan Bank Indonesia Perwakilan Maluku Utara dan didukung Badan Pangan Nasional lewat program Fasilitasi Distribusi Pangan. Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara menyatakan berharap tambahan pasokan ini bisa menekan harga cabai hingga di bawah Rp100.000 per kilogram.
Kerja sama ini melanjutkan penandatanganan kerja sama antardaerah antara Pemerintah Kabupaten Halmahera Utara dan Pemerintah Kabupaten Malang pada 19 Oktober 2026, yang juga difasilitasi Bank Indonesia melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah. Untuk distribusi komoditas pangan lain, Kemendag menyebut pengiriman telur dioptimalkan lewat kerja sama dengan PT Pelni, sementara cabai yang cepat rusak bisa dikirim lewat jalur udara agar lebih cepat sampai ke tujuan.
Secara lebih luas, Kemendag mencatat program Gerai Maritim yang memanfaatkan Tol Laut dan Jembatan Udara sudah menjangkau 63 kota/kabupaten dan 12 kabupaten di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan. Program ini diklaim menurunkan harga rata-rata 11,22 persen, dengan rincian harga barang kebutuhan pokok turun 11,63 persen dan barang penting turun 8,04 persen. Kemendag juga menyebut kerja sama antardaerah sejenis kini menjangkau 301 kabupaten/kota di 18 provinsi, dengan pemantauan arus barang antarpulau mencakup 244 pelabuhan dan volume 541,26 juta ton sepanjang Januari-September 2026.
