Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) menggelar public expose tahunan pada Rabu, 9 September 2026, pukul 09.00-10.00 WIB, difasilitasi Bursa Efek Indonesia melalui Public Expose Live 2026. Acara dihadiri 195 peserta investor, media, dan masyarakat umum di luar manajemen dan karyawan perseroan, dengan jajaran direksi yang hadir yaitu Direktur Utama Mulianto, serta Direktur Yulius Kurniawan Gozali, Isara Pootrakul, dan Warut Waramit.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen mengungkapkan bahwa surutnya permukaan air Sungai Mahakam membuat kapasitas pemuatan tongkang batu bara dari tambang di Melak turun 30 sampai 40 persen, yang berpotensi menaikkan biaya logistik per ton meski dampaknya disebut terbatas karena Melak hanya sebagian dari total volume penjualan. Tambang Indominco di Bontang tidak terdampak karena lokasinya dekat laut. Perusahaan menargetkan strip ratio, yaitu rasio lapisan tanah yang harus dikupas untuk setiap ton batu bara yang digali, di kisaran 10,3 hingga 10,5 kali sepanjang 2026. Belanja modal atau capex baru terealisasi US$21 juta hingga Juni 2026, setara 42 persen dari anggaran tahun ini, mayoritas dipakai untuk ekspansi guna mendukung peningkatan produksi. Harga jual rata-rata batu bara ITMG pada semester I 2026 tercatat US$81,0 per ton dengan volume penjualan 12,3 juta ton.

Soal keberlanjutan produksi, manajemen mengonfirmasi tambang Kitadin telah memasuki fase penutupan, cadangan di Jorong tinggal sekitar 2 juta ton, dan kontrak PKP2B tambang Indominco akan berakhir pada 2028, namun belum memastikan rencana akuisisi tambang pengganti. Perusahaan juga menyampaikan sudah masuk ke bisnis nikel lewat kepemilikan di PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) dan terbuka menambah porsi kepemilikan serta menjajaki mineral strategis lain. Terkait dividen, manajemen belum memastikan akan membagikan dividen interim untuk tahun buku 2026, dan menyatakan belum berencana melakukan stock split.