PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) melaporkan laba bersih senilai Rp349,27 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, naik 56 persen dari Rp224,0 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini ditopang penjualan yang tumbuh 14,2 persen menjadi Rp3,53 triliun dari Rp3,09 triliun, sementara laba kotor naik lebih tajam sebesar 32,2 persen menjadi Rp710,2 miliar. Laba usaha naik 33 persen menjadi Rp491,4 miliar, dan laba per saham dasar naik dari Rp24,27 menjadi Rp37,84. Laporan keuangan interim ini belum diaudit dan ditandatangani Direktur Utama Indra Irawan serta Direktur Keuangan Temmy Iskandar di Batulicin pada 26 Oktober 2026.
Dari sisi posisi keuangan, jumlah aset perusahaan per 30 September 2026 tercatat Rp4,46 triliun, naik dari Rp4,02 triliun pada akhir 2025. Jumlah ekuitas naik 15,1 persen menjadi Rp2,21 triliun dari Rp1,92 triliun, terutama dari akumulasi laba yang bertambah menjadi Rp867,2 miliar. Jumlah liabilitas naik 7,4 persen menjadi Rp2,26 triliun, dengan utang bank jangka panjang justru turun dari Rp1,66 triliun menjadi Rp1,51 triliun, sementara utang bank yang jatuh tempo dalam satu tahun naik dari Rp126 miliar menjadi Rp187,75 miliar. Yang menonjol, piutang usaha dari pihak berelasi melonjak dari Rp60,49 miliar menjadi Rp595,73 miliar, dan utang usaha ke pihak berelasi naik dari Rp235,2 miliar menjadi Rp455,76 miliar, mencerminkan transaksi yang membesar dengan perusahaan dalam satu grup, termasuk induk usaha PT Eshan Agro Sentosa dan induk utama PT Jhonlin Group.
Arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp235,04 miliar pada sembilan bulan 2026, lebih tinggi dari Rp153,77 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Sebagian kas yang dihasilkan dipakai untuk membayar dividen tunai Rp59,99 miliar, melunasi sebagian utang bank senilai Rp90 miliar, serta belanja modal untuk tanaman produktif Rp41,86 miliar dan aset tetap Rp5,48 miliar. Posisi kas dan setara kas pada akhir periode sedikit turun menjadi Rp388,69 miliar dari Rp392,44 miliar pada akhir 2025.
