PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) menjawab permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia soal risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang dikirim lewat surat nomor S-13051/BEI.PP2/10-2026 tertanggal 13 Oktober 2026. Jawaban perusahaan dikirim dua hari kemudian, 15 Oktober 2026, melalui surat nomor 099/EXT-CORSEC/JARR/X/2026 yang ditandatangani Direktur Utama Indra Irawan.

Dalam surat itu, JARR menjelaskan bahwa wilayah operasional, konsesi, dan aset perkebunan serta pengolahan kelapa sawitnya tersebar di Kabupaten Kotabaru dan Kabupaten Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan, dan dikelola langsung oleh perusahaan, bukan lewat anak usaha. Area ini disebut sebagai kontributor utama, dengan porsi mayoritas dari total volume produksi dan pendapatan perusahaan. JARR menegaskan hingga saat ini tidak ada kejadian karhutla di wilayah operasionalnya, sehingga target produksi 2026, pendapatan, laba, dan nilai aset tidak terdampak. Perusahaan juga menyatakan tidak ada penghentian operasi mendadak (unplanned shutdown), tidak sedang menghadapi proses hukum atau sanksi administratif seperti penyegelan lahan, penyelidikan, gugatan, atau pencabutan izin terkait karhutla, serta tidak ada fakta material lain yang belum diungkapkan ke publik.

Untuk mitigasi, JARR memaparkan strategi jangka pendek berupa regu pemadam kebakaran bersertifikasi yang siaga 24 jam terutama saat musim kemarau, pemantauan titik panas lewat satelit secara real time, patroli darat harian, serta kesiapan pompa air portabel dan menara pantau api dengan sumber air dari embung dan kanal. Untuk jangka panjang, perusahaan menjaga tinggi permukaan air tanah dan kanal agar lahan tetap lembap, menerapkan kebijakan tanpa bakar (zero burning) dalam pembukaan lahan, serta menjalankan program Masyarakat Bebas Api yang melibatkan edukasi warga desa sekitar konsesi.