Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Novyan Bakrie, menyatakan fundamental ekonomi nasional masih kuat meski dunia dibayangi ketidakpastian. Dalam pembukaan Rapat Pimpinan Nasional Kadin 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Kamis (29/10/2026), ia menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini berada di level 5,1 persen. Pernyataan ini disampaikan sebagai pesan optimisme kepada para pengurus dan pelaku usaha yang hadir dalam forum tersebut.
Anindya membandingkan kondisi sekarang dengan dua krisis besar yang pernah dialami Indonesia, yaitu ekonomi yang minus 13 persen saat krisis moneter 1998 dan minus 2,1 persen saat pandemi Covid-19 pada 2020. Menurutnya, posisi tumbuh positif 5,1 persen saat ini menunjukkan daya tahan ekonomi yang berbeda dari dua periode krisis itu. Ia juga menyinggung langkah sejumlah negara menyiapkan cadangan darurat, misalnya Amerika Serikat yang membangun stok bahan bakar minyak untuk kebutuhan 90 hari dan Inggris yang mengimbau warganya mampu bertahan mandiri selama 72 jam. Indonesia, kata dia, juga sedang memperkuat ketahanan pangan, air, dan energi di tengah situasi global yang tidak menentu.
Di sisi lain, Anindya mengakui ada tekanan nyata di pasar keuangan domestik. Ia menyebut ada dana sebesar Rp124 triliun yang keluar dari pasar modal, bersamaan dengan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan atau kumpulan harga saham-saham di Bursa Efek Indonesia sebesar 40 persen. Fakta ini disampaikan berdampingan dengan klaim fundamental yang kuat, menunjukkan bahwa optimisme makro tidak serta merta tercermin di pergerakan pasar saham dalam periode yang sama.
Anindya menutup pernyataannya dengan menyebut Indonesia sebagai titik terang di tengah gejolak ekonomi dunia, sebuah sebutan yang menurutnya datang dari pihak luar, bukan klaim sendiri. Ia menegaskan hal itu masih berlaku hingga tahun ini, melanjutkan penilaian serupa yang menurutnya sudah disematkan pada 2025.
