PT Kimia Farma (Persero) Tbk menyampaikan laporan keuangan konsolidasian triwulan III 2026 yang belum diaudit kepada Otoritas Jasa Keuangan pada 31 Oktober 2026, ditandatangani oleh Direktur Utama Djagad Prakasa Dwialam. Untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, penjualan neto perusahaan farmasi pelat merah ini naik tipis menjadi Rp7,08 triliun dari Rp7,01 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Yang lebih mencolok, rugi bersih perusahaan menyusut tajam menjadi Rp12,9 miliar, dari rugi Rp234,1 miliar setahun sebelumnya. Laba usaha naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp227,4 miliar dari Rp99,1 miliar, didorong kenaikan penjualan dan beban usaha yang turun dari Rp2,41 triliun menjadi Rp2,34 triliun.

Di sisi utang, Kimia Farma memangkas drastis utang bank jangka pendeknya menjadi Rp72,2 miliar dari sebelumnya Rp1,1 triliun. Bagian utang bank jangka panjang yang harus dibayar dalam waktu satu tahun juga turun tajam, dari Rp2,01 triliun menjadi hanya Rp101,9 miliar. Sebaliknya, utang bank jangka panjang yang tenornya masih lebih dari setahun naik menjadi Rp6,23 triliun dari Rp3,36 triliun. Hasilnya, total liabilitas jangka pendek turun dari Rp7,06 triliun menjadi Rp4,59 triliun, mendekati nilai aset lancar perusahaan sebesar Rp4,79 triliun, berbeda jauh dari posisi akhir 2025 ketika aset lancar hanya Rp3,98 triliun jauh di bawah liabilitas jangka pendek. Kas dan setara kas juga bertambah menjadi Rp467,6 miliar dari Rp377,1 miliar, sementara total aset perusahaan tumbuh menjadi Rp14,63 triliun dari Rp14,18 triliun.

Meski rugi menyusut, total ekuitas perusahaan justru sedikit turun menjadi Rp2,73 triliun dari Rp2,74 triliun karena akumulasi defisit yang belum tertutup masih besar, yakni Rp5,53 triliun. Porsi laba yang jadi hak pemegang saham minoritas di anak usaha berbalik menjadi untung Rp49,1 miliar, dari rugi Rp54,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Dalam lampiran laporan juga tercantum lima anak usaha utama Kimia Farma beserta persentase kepemilikannya: PT Kimia Farma Trading & Distribution 99,99 persen, PT Sinkona Indonesia Lestari 51 persen, PT Kimia Farma Sungwun Pharmacopia 80,67 persen, PT Phapros Tbk 56,77 persen, dan PT Kimia Farma Apotek 59,99 persen.