PT Mulia Boga Raya Tbk (KEJU), produsen keju olahan merek Prochiz yang berafiliasi dengan Garudafood, melaporkan hasil keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Penjualan bersih perseroan naik 32,3 persen jadi Rp1,44 triliun dari Rp1,09 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Laba bruto naik jadi Rp378,38 miliar dari Rp336,54 miliar, sementara laba bersih tumbuh 9,2 persen jadi Rp161,54 miliar dari Rp147,87 miliar. Laba per saham ikut naik dari Rp26,29 menjadi Rp28,77.
Di sisi aset, total aset KEJU naik jadi Rp1,49 triliun dari Rp1,25 triliun, terutama karena aset tetap melonjak jadi Rp632,45 miliar dari Rp439,38 miliar seiring persediaan yang naik ke Rp402,03 miliar dari Rp318,40 miliar. Total liabilitas melonjak 43,26 persen menjadi Rp582,19 miliar. Dalam surat resmi ke Bursa Efek Indonesia yang menjelaskan perubahan lebih dari 20 persen ini, manajemen menyebut kenaikan utang terutama berasal dari pinjaman bank baru senilai Rp95 miliar, utang usaha pihak ketiga yang naik Rp26,02 miliar, utang lain-lain pihak ketiga yang naik Rp29,69 miliar, dan akrual yang naik Rp24,05 miliar. Ekuitas tetap naik jadi Rp906,42 miliar dari Rp845,09 miliar, meski perseroan membagikan dividen tunai Rp89,87 miliar dan membeli kembali sahamnya sendiri senilai Rp10,05 miliar pada periode ini.
Dari sisi arus kas, kas bersih dari aktivitas operasi turun jadi Rp88,70 miliar dari Rp224,16 miliar setahun sebelumnya, karena pembayaran ke pemasok dan karyawan membesar seiring kenaikan persediaan dan piutang usaha. Arus kas untuk investasi makin negatif menjadi Rp214,90 miliar, dipakai untuk pembelian aset tetap Rp120,22 miliar dan uang muka pembelian aset tetap lain senilai Rp94,99 miliar. Kekurangan dana ini ditutup dari pinjaman bank baru Rp100 miliar dikurangi pelunasan Rp5 miliar, sementara kas juga keluar untuk dividen Rp89,87 miliar dan pembelian saham treasuri Rp10,05 miliar. Akibatnya, saldo kas dan bank di akhir September 2026 tinggal Rp127,66 miliar, turun separuh dari Rp258,78 miliar di akhir 2025.
