Kementerian Pertanian tengah membangun dan memperbaiki 999 unit jaringan irigasi tersier, saluran air kecil yang mengalirkan air langsung ke petak sawah, di Jawa Barat dan Banten. Langkah ini ditujukan agar petani tetap bisa menanam padi di tengah musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih panjang karena El Nino. Progres proyek ini dibahas dalam rapat koordinasi dan evaluasi di Bandung pada 3 September 2026.
Realisasi fisik proyek ini sejauh ini mencapai 737 unit, atau 73,77 persen dari target. Untuk irigasi yang didanai lewat Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian, realisasinya lebih tinggi yaitu 405 dari 460 unit atau 88,04 persen, sementara proyek yang bersumber dari usulan anggaran aspirasi anggota dewan masih dalam tahap verifikasi.
Selain memperbaiki saluran, pipa, dan pompa untuk memanfaatkan air permukaan, Kementan juga membangun sumur bor dan jaringan irigasi air tanah, serta membagikan benih gratis ke lahan yang sudah telanjur gagal panen. Dampaknya terlihat di Kabupaten Pandeglang, Banten, tempat sekitar 300 hektare sawah terindikasi terancam kekeringan dan 19 hektare sudah gagal panen. Pemerintah daerah setempat menyebut sudah merampungkan seluruh 53 unit irigasi tersier jatah wilayahnya dan mengusulkan tambahan 101 unit pompa air.
Program ini dijalankan lewat skema bantuan pemerintah berbasis padat karya, dengan pengajuan proyek memakai sistem digital bernama e-Banper sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 02 Tahun 2026. Berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025, Kementerian Pekerjaan Umum mengurus jaringan irigasi besar dan menengah, sedangkan Kementerian Pertanian berfokus pada saluran kecil sampai ke lahan petani. Kementan menyebut anggaran untuk sektor irigasi naik dua kali lipat, meski rincian angkanya tidak disampaikan dalam siaran pers ini.
