Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan dari penjualan dan jasa naik 15,8 persen menjadi Rp4,25 triliun, dari Rp3,67 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk perseroan justru merosot 78,2 persen menjadi Rp60,45 miliar, dari Rp277,3 miliar setahun sebelumnya, membuat laba per saham dasar turun dari Rp13,50 menjadi Rp2,91.

Penurunan laba ini terjadi meski laba kotor perseroan naik menjadi Rp1,58 triliun dari Rp1,47 triliun. Penyebabnya adalah kenaikan beban umum dan administrasi menjadi Rp485 miliar dari Rp370,5 miliar, serta beban lain-lain neto yang melonjak menjadi Rp338,3 miliar dari Rp88,3 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Akibatnya, laba sebelum pajak tergerus menjadi Rp474,1 miliar dari Rp724,8 miliar.

Di sisi pendanaan, KIJA melunasi seluruh obligasi Senior Notes senilai Rp3,09 triliun yang masih tercatat pada akhir 2025, dan menggantinya dengan pinjaman bank jangka panjang yang melonjak menjadi Rp4,63 triliun dari Rp1,36 triliun. Total liabilitas perseroan naik menjadi Rp7,05 triliun dari Rp6,91 triliun, sementara total ekuitas turun tipis menjadi Rp8,11 triliun dari Rp8,14 triliun. Arus kas neto dari aktivitas operasi juga menyusut tajam menjadi Rp568,7 miliar dari Rp1,7 triliun, dan posisi kas serta setara kas berkurang menjadi Rp3,15 triliun dari Rp3,62 triliun.