Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) mencatat pendapatan konsolidasian Rp4.254,9 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, naik 16 persen dari Rp3.674,7 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Laba bruto naik 7 persen menjadi Rp1.577,8 miliar, tapi margin laba bruto justru turun dari 40 persen menjadi 37 persen. Laba bersih perusahaan tercatat Rp391,7 miliar, turun 38 persen dari Rp634,6 miliar tahun lalu, sementara EBITDA naik 4 persen menjadi Rp1.362,4 miliar dan kas konsolidasi perusahaan ada di Rp3.153,7 miliar.
Dari tiga pilar bisnisnya, Pengembangan Lahan dan Properti menyumbang Rp1.914,8 miliar, naik 17 persen, dengan Rp939,9 miliar di antaranya diakui hanya pada kuartal III 2026, hampir menyamai total semester pertama yang Rp974,9 miliar. Penjualan tanah matang mencapai Rp1.629,5 miliar dari sebelumnya Rp1.433,2 miliar, penjualan tanah dan bangunan pabrik melonjak 291 persen menjadi Rp126,0 miliar dari Rp32,2 miliar, dan penjualan tanah dan rumah naik 18 persen menjadi Rp77,8 miliar. Pilar Infrastruktur tumbuh 15 persen menjadi Rp2.242,5 miliar, disumbang segmen ketenagalistrikan Rp1.505,2 miliar, Jasa dan Pemeliharaan yang tumbuh 33 persen menjadi Rp525,6 miliar, serta Cikarang Dry Port yang naik menjadi Rp211,8 miliar dari Rp174,6 miliar karena kenaikan volume peti kemas. Pendapatan berulang dari pilar Infrastruktur ini menyumbang 53 persen dari total pendapatan perusahaan. Pilar Leisure dan Hospitality menyumbang Rp97,6 miliar, dengan bisnis golf menyumbang sekitar 65 persen dari pilar ini.
Perusahaan menjelaskan penurunan laba bersih disebabkan beban non-operasional satu kali terkait refinancing obligasi Senior Notes berdenominasi dolar AS menjadi pinjaman bank berdenominasi rupiah, yang meliputi rugi selisih kurs, biaya penghentian instrumen hedging, dan beban amortisasi dipercepat untuk Senior Notes yang jatuh tempo 2027. Marketing sales dari pilar Pengembangan Lahan dan Properti mencapai sekitar Rp1,52 triliun, didukung penjualan lahan di Cikarang dan sekitarnya sebesar 3 hektare ke perusahaan tekstil Indonesia, 1 hektare ke perusahaan ketenagalistrikan, dan 0,7 hektare ke importir bahan bangunan asal Tiongkok, serta di Kendal sebesar 7 hektare ke produsen baterai Tiongkok, 6 hektare ke produsen kulit sintetis Tiongkok, dan 9,7 hektare ke produsen peralatan rumah tangga Indonesia. Perusahaan akan menyampaikan panduan resmi target marketing sales 2027 pada awal tahun 2027.
