PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) melaporkan pendapatan usaha sebesar Rp916,0 miliar pada semester I 2026, naik 81,6% dibandingkan Rp504,4 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Perusahaan menyebut lini Courier Services sebagai penyumbang pendapatan terbesar, disusul proyek Fiber to the Home (FTTH) dan project management office (PMO) di bisnis Technical Services, serta jasa call center. Sejalan dengan itu, beban pokok pendapatan ikut naik 81,9% menjadi Rp882,0 miliar dari Rp484,8 miliar, seiring bertambahnya volume bisnis kurir dan jumlah tenaga kerja yang dikelola.

Laba kotor tercatat Rp34,0 miliar, naik 73,6% dari Rp19,6 miliar, meski margin kotor turun tipis dari 3,9% menjadi 3,7%. Beban usaha hanya tumbuh 41,1%, jauh di bawah laju pendapatan yang naik 81,6%, dengan beban gaji dan tunjangan naik 34,4% menjadi Rp10,3 miliar dari Rp7,6 miliar. Hasilnya, laba sebelum pajak melonjak 452,7% menjadi Rp3,2 miliar dari Rp577,4 juta, dan laba bersih naik 1.239,4% menjadi Rp1,8 miliar dari Rp135,2 juta pada semester I 2025.

Dari sisi neraca, total aset per 30 Juni 2026 mencapai Rp336,6 miliar, naik 26,6% dari Rp265,9 miliar pada akhir 2025, dengan aset lancar naik 34,6% menjadi Rp276,1 miliar karena penambahan kas, piutang usaha dari segmen baru Courier Services, serta penyesuaian uang muka yang sudah lama tertahan. Total liabilitas melonjak 47,0% menjadi Rp214,8 miliar, terutama akibat pinjaman bank jangka pendek baru dan kenaikan utang lain-lain ke pihak ketiga. Sementara itu, total ekuitas hanya naik 1,7% menjadi Rp121,8 miliar dari Rp119,8 miliar.

Perseroan turut menyoroti bergabungnya PADA ke ekosistem PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) sebagai pemegang saham pengendali, yang membuka peluang kerja sama lintas entitas Grup INET di jasa Office Services, Security Services, Technical Services, dan Managed Operations Services. PADA juga menjalin kolaborasi dengan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI Group) untuk mendukung pembangunan jaringan FTTH dan Internet Rakyat (IRA) 5G Fixed Wireless Access di berbagai wilayah Indonesia. Direktur Utama Cahyanul Uswah menyebut strategi optimalisasi portofolio pelanggan dan program cross selling menjadi pendorong utama pertumbuhan kinerja pada periode ini.