PT Personel Alih Daya Tbk (PADA) menjawab surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia Nomor S-13141/BEI.PP1/10-2026 tertanggal 14 Oktober 2026 terkait laporan keuangan interim per 30 Juni 2026. Perseroan mengonfirmasi akumulasi rugi sebesar Rp9,95 miliar dan arus kas neto negatif dari aktivitas operasi sebesar Rp64,45 miliar, memburuk dari minus Rp17,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya, dengan posisi kas pada akhir periode sebesar Rp17 miliar. Manajemen menyebut arus kas negatif itu bersifat sementara akibat siklus modal kerja, bukan penurunan struktural, dan menyusun rencana berupa pemantauan proyeksi arus kas, percepatan penagihan piutang, evaluasi kontrak dan pelanggan, efisiensi biaya, serta analisis sensitivitas likuiditas. Auditor independen pada laporan tertanggal 28 September 2026 tidak mencantumkan paragraf ketidakpastian material karena setelah menilai rencana manajemen dan sumber pendanaan yang tersedia, disimpulkan tidak ada ketidakpastian material atas kelangsungan usaha, dan hal ini telah dibahas bersama auditor dalam pertemuan serta surat representasi manajemen pada tanggal yang sama.

Pendapatan neto Perseroan naik 81,61 persen dari Rp504,36 miliar menjadi Rp915,99 miliar, seluruhnya didorong bisnis jasa kurir yang baru dirintis sejak 2025 dan menyumbang Rp550,63 miliar, padahal sebelumnya nihil. Dari jumlah itu, Rp531,07 miliar atau 57,98 persen dari total pendapatan Perseroan berasal dari satu pelanggan, PT Nusantara Ekspres Kilat (NEX), yang menurut Perseroan tidak memiliki hubungan afiliasi dan bertransaksi wajar, meski margin laba bruto bisnis kurir ini hanya 2,50 persen. Di sisi lain, pendapatan jasa personel support dan office service, lini usaha inti lama Perseroan, anjlok 58,85 persen dari Rp276,08 miliar menjadi Rp113,61 miliar. Perseroan menjelaskan penurunan ini terutama akibat perpindahan pencatatan pendapatan dari NEX senilai Rp99,54 miliar yang semula masuk lini personel support kini dicatat sebagai jasa kurir, bukan karena kehilangan pelanggan. Pendapatan dari PT Bank Syariah Indonesia sebenarnya naik dari Rp58,14 miliar menjadi Rp62,54 miliar, namun porsinya turun dari 11,53 persen menjadi 6,8 persen dari total pendapatan sehingga tidak lagi tercatat sebagai pelanggan utama.

Perseroan juga mengakui kesalahan penyajian pada catatan segmen operasi (CALK 31/32) periode 30 Juni 2025 yang berbeda dengan catatan pendapatan (CALK 23) meski totalnya sama-sama Rp504,36 miliar, mencakup selisih pada lini personel support, jasa keamanan, serta fiber-to-the-home dan project management office. Perseroan berjanji memperbaiki penyajian segmen pada laporan keuangan periode September 2026. Untuk ke depan, Perseroan menyebut strategi diversifikasi lewat lini technical and maintenance yang naik 14,94 persen menjadi Rp73,95 miliar, call center naik 5,26 persen menjadi Rp36,40 miliar, lini baru fiber-to-the-home dan project management office senilai Rp15,68 miliar, perluasan jasa kurir ke pelanggan e-commerce dan logistik lain, serta pelanggan baru PT Inspur Technology Indonesia dan PT Telemedia Komunikasi Pratama.