PT UBC Medical Indonesia Tbk (LABS) menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada 30 September 2026. Dokumen yang ditandatangani Direktur Utama Franciscus Xaverius Yoshua Raintjung di Jakarta pada 26 Oktober 2026 itu menunjukkan total aset perusahaan turun 3,3 persen menjadi Rp220,64 miliar, dari Rp228,19 miliar pada akhir 2025. Penurunan paling mencolok terjadi pada kas dan bank, yang susut 91 persen dari Rp41,16 miliar menjadi hanya Rp3,67 miliar dalam sembilan bulan.
Dari sisi kinerja, pendapatan LABS justru tumbuh 11,2 persen menjadi Rp150,55 miliar, dari Rp135,44 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Namun kenaikan itu tidak terbawa ke laba bersih, yang malah turun hampir 40 persen menjadi Rp7,19 miliar dari Rp11,96 miliar. Penyebabnya, beban penjualan naik menjadi Rp23,65 miliar dan beban umum serta administrasi naik menjadi Rp23,74 miliar, ditambah rugi selisih kurs yang melonjak tiga kali lipat menjadi Rp3,02 miliar dari sekitar Rp980 juta pada periode sebelumnya.
Laporan arus kas menunjukkan kegiatan operasional perusahaan menyedot kas neto Rp18,08 miliar, membesar dari Rp7,45 miliar pada sembilan bulan 2025. Perusahaan juga membelanjakan Rp7,91 miliar untuk membeli aset tetap, serta menggunakan Rp11,50 miliar untuk aktivitas pendanaan, termasuk Rp7,6 miliar untuk membeli kembali saham sendiri. Pembelian kembali ini membuat jumlah saham beredar turun dari 3,95 miliar menjadi 3,91 miliar lembar dengan nilai nominal Rp20 per saham. Gabungan seluruh aktivitas itu membuat kas perusahaan berkurang Rp37,49 miliar sepanjang periode, sementara total ekuitas relatif stabil di Rp152,05 miliar.
Anak usaha LABS, PT Esora Medika Indonesia yang bergerak di industri alat kesehatan dan telah beroperasi komersial sejak 2024 di Jakarta, tercatat memiliki total aset Rp44,03 miliar dengan kepemilikan LABS sebesar 99,99 persen.
