PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) mengumumkan rencana pembelian kembali saham (buyback) dengan dana maksimal Rp750 miliar yang bersumber dari kas internal perusahaan. Rencana ini dijalankan berdasarkan Peraturan OJK No. 13 Tahun 2023 dan Surat OJK No. S-112/D.04/2026 tanggal 9 September 2026, yang memberi kelonggaran bagi emiten untuk melakukan buyback tanpa persetujuan RUPS saat pasar modal berfluktuasi signifikan. Pembelian akan berlangsung mulai 26 Oktober hingga 31 Desember 2026, melalui perdagangan di Bursa Efek Indonesia dengan satu anggota bursa yang akan ditunjuk perseroan, dan tidak ada batas volume transaksi harian. Jumlah saham yang dibeli tidak akan lebih dari 20 persen dari modal disetor perseroan, dengan tetap memperhatikan aturan free float yang berlaku. Rencana ini berakhir lebih dulu antara berakhirnya periode tersebut atau tercapainya dana maksimal Rp750 miliar.

Dalam dokumen keterbukaan, perseroan menyertakan simulasi dampak keuangan berdasarkan laporan per 30 Juni 2026. Total aset diperkirakan turun dari Rp16,29 triliun menjadi Rp15,54 triliun, dan total ekuitas turun dari Rp14,32 triliun menjadi Rp13,57 triliun, keduanya berkurang Rp750 miliar sesuai dana buyback. Laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tetap di angka Rp890,99 miliar, namun laba bersih per saham diperkirakan naik dari Rp131 menjadi Rp141 per lembar karena jumlah saham yang beredar di pasar berkurang akibat pembelian kembali.

Perseroan menegaskan harga pembelian akan ditetapkan pada level yang dianggap wajar sesuai aturan yang berlaku, tanpa batas harga tetap yang diumumkan. Selama periode buyback, komisaris, direktur, pegawai, pemegang saham utama, dan pihak yang memiliki akses informasi orang dalam dilarang bertransaksi atas saham LSIP, termasuk pada hari yang sama dengan penjualan kembali saham treasuri hasil buyback. Manajemen menyatakan langkah ini tidak akan menurunkan pendapatan perseroan maupun berdampak negatif material terhadap kondisi keuangan, karena perseroan dinilai memiliki permodalan dan arus kas yang memadai.