PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perusahaan naik 15,1 persen, dari Rp2,02 triliun pada periode yang sama tahun 2025 menjadi Rp2,33 triliun. Laba bersih periode berjalan melonjak dari Rp75,36 miliar menjadi Rp167,86 miliar, naik 122,7 persen, sehingga laba per saham dasar naik dari Rp4,89 menjadi Rp10,45.

Namun, laba usaha dari kegiatan bisnis utama justru sedikit turun, dari Rp263,37 miliar menjadi Rp253,46 miliar. Pendorong utama kenaikan laba bersih adalah rugi investasi saham yang belum direalisasi, yang menyusut tajam dari Rp112,53 miliar menjadi hanya Rp11,92 miliar. Di sisi lain, beban keuangan (bunga pinjaman) naik dari Rp32,26 miliar menjadi Rp39,41 miliar, seiring perusahaan menambah utang bank jangka pendek dan jangka panjang yang sebelumnya nihil menjadi total Rp43,33 miliar.

Dari sisi posisi keuangan, total aset turun dari Rp2,996 triliun menjadi Rp2,731 triliun, sementara total liabilitas turun 27,8 persen dari Rp1,093 triliun menjadi Rp856,78 miliar. Dalam surat terpisah ke Bursa Efek Indonesia yang merujuk Peraturan I-E Poin III.1.1.4 tentang kewajiban menjelaskan perubahan lebih dari 20 persen pada pos aset atau liabilitas, manajemen MAHA menyebut penurunan ini terutama berasal dari pelunasan utang usaha kepada pemasok dan pembayaran angsuran liabilitas sewa secara berkala. Kas dan setara kas ikut turun dari Rp566,23 miliar menjadi Rp459,15 miliar, dan total ekuitas turun tipis dari Rp1,903 triliun menjadi Rp1,874 triliun setelah perusahaan membagikan dividen tunai Rp196,74 miliar, jumlah yang melebihi laba periode ini yang dapat diatribusikan ke pemegang saham induk sebesar Rp171,48 miliar.

Laporan ini juga mencantumkan informasi anak usaha, PT Mandiri Prima Adiperkasa, yang bergerak di bidang pertambangan berlokasi di Jakarta dan dimiliki MAHA sebesar 40 persen. Anak usaha ini tercatat belum beroperasi secara komersial, dengan total aset Rp32,54 miliar.