PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang belum diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026 kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia pada 27 Oktober 2026. Laporan ditandatangani Direktur Utama perseroan dan disusun dalam mata uang dolar Amerika Serikat, sesuai praktik pelaporan perusahaan tambang batu bara ini pada periode-periode sebelumnya.
Pendapatan perseroan mencapai US$542,2 juta sepanjang Januari hingga September 2026, naik dari US$487,0 juta pada periode yang sama tahun lalu. Laba kotor naik lebih tinggi lagi, dari US$92,4 juta menjadi US$116,6 juta, sehingga laba bersih periode berjalan melonjak dari US$37,4 juta menjadi US$58,0 juta, naik sekitar 55 persen. Dari jumlah itu, US$56,2 juta menjadi bagian pemilik entitas induk, naik dari US$35,8 juta, sehingga laba per saham naik dari US$0,0101 menjadi US$0,0158.
Di sisi posisi keuangan, total aset perseroan naik dari US$729,2 juta pada akhir 2025 menjadi US$782,8 juta pada akhir September 2026, sementara total ekuitas bertambah dari US$589,6 juta menjadi US$619,5 juta dan total liabilitas naik dari US$139,5 juta menjadi US$163,3 juta. Kas dan setara kas bertambah dari US$118,6 juta menjadi US$138,5 juta, meski perseroan tetap membayar dividen tunai US$43,2 juta selama periode ini. Perseroan juga membeli investasi saham baru senilai US$14,2 juta sehingga saldo pos itu menjadi US$29,5 juta, dan pada periode ini pula mendirikan satu anak perusahaan baru yang menyumbang US$367 ribu ke pos kepentingan nonpengendali.
Laporan ini merinci empat entitas anak yang dikonsolidasikan: PT Mandiri Intiperkasa di bidang pertambangan dengan aset US$340,1 juta dan kepemilikan 99,99 persen, PT Mandala Karya Prima sebagai kontraktor batu bara dengan aset US$332,1 juta dan kepemilikan 99,99 persen, PT Maritim Prima Mandiri di bidang ekspedisi muatan kapal laut dengan aset US$123,7 juta dan kepemilikan 74 persen, serta PT Mandiri Data Investama di bidang pengolahan data dengan aset US$1,4 juta dan kepemilikan 75 persen yang hingga periode ini belum beroperasi.
