PT Pemeringkat Efek Indonesia (PEFINDO) menegaskan peringkat idA+ dengan outlook stabil untuk PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) beserta seluruh obligasi berkelanjutannya, berdasarkan hasil rapat komite pemeringkatan pada 1 Oktober 2026. Peringkat ini berlaku untuk periode 1 Oktober 2026 sampai 1 Oktober 2027, sama dengan peringkat tahun sebelumnya.
Tujuh seri obligasi yang ikut dipertahankan ratingnya beserta nilai pokok dan tanggal jatuh temponya adalah Obligasi Berkelanjutan III Tahap II 2022 Seri B senilai Rp1,69 triliun jatuh tempo 28 April 2027, Tahap III 2022 Seri C senilai Rp797,64 miliar jatuh tempo 1 September 2027, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap V 2024 Seri B senilai Rp750 miliar jatuh tempo 23 Februari 2027, Tahap VI 2024 Seri B senilai Rp1,97 triliun jatuh tempo 30 Juli 2027, Obligasi Berkelanjutan V Tahap I 2024 senilai Rp1 triliun jatuh tempo 24 Desember 2027, Tahap II 2025 Seri B senilai Rp1,94 triliun jatuh tempo 25 Februari 2028, dan Tahap III 2026 senilai Rp2,3 triliun jatuh tempo 8 Juli 2027. PEFINDO mencatat nilai gabungan ketujuh seri ini Rp10,45 triliun. Satu seri lain, Obligasi Berkelanjutan IV Tahap IV 2023 Seri B senilai Rp1,29 triliun, juga mendapat idA+ tapi hanya berlaku sampai 15 Desember 2026 karena obligasi itu jatuh tempo lebih cepat.
Data keuangan yang menyertai laporan ini menunjukkan perbaikan signifikan. Per Juni 2026, rasio utang terhadap EBITDA (disetahunkan) turun menjadi 2,5 kali dari 5,6 kali pada akhir 2025, sementara laba bersih setelah hak minoritas berbalik positif US$101,6 juta untuk semester pertama 2026, dibandingkan rugi US$62,1 juta sepanjang 2025. Margin EBITDA naik dari 19,7 persen menjadi 36,5 persen. Per 30 Juni 2026, pemegang saham MDKA terdiri dari PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (19,37 persen), PT Mitra Daya Mustika (11,88 persen), Garibaldi Thohir (7,46 persen), PT Suwarna Arta Mandiri (5,46 persen), serta publik dan saham treasuri (55,83 persen).
PEFINDO menyebut rating bisa dinaikkan jika MDKA berhasil menjalankan proyek-proyek barunya dengan portofolio bisnis yang seimbang sambil terus menurunkan utang dan membukukan pendapatan atau EBITDA di atas proyeksi. Sebaliknya, rating bisa diturunkan jika kinerja MDKA melemah, perusahaan membiayai belanja modal secara agresif dengan utang besar, atau harga komoditas, khususnya nikel, emas, dan tembaga, merosot tajam.
