PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) menyampaikan materi Public Expose Tahunan kepada Bursa Efek Indonesia pada 4 September 2026 melalui surat bernomor EXT-001/LEGC/INA/MEDC/IX/2026, ditandatangani Corporate Secretary Siendy K. Wisandana. Materi ini merujuk pada pengumuman rencana Public Expose Tahunan yang sebelumnya disampaikan lewat surat 26 Agustus 2026, dan berisi paparan kinerja keuangan kuartal I 2026 serta rencana strategis perusahaan sepanjang tahun.

Dalam materi tersebut, MEDC melaporkan pendapatan konsolidasi kuartal I 2026 sebesar US$668,3 juta, naik 19,2 persen dibanding periode sama tahun lalu yang sebesar US$560,5 juta. EBITDA naik 5,7 persen menjadi US$351,1 juta, sementara laba bersih melonjak 282,3 persen menjadi US$67,4 juta dari US$17,6 juta setahun sebelumnya. Lonjakan laba ini banyak ditopang kontribusi US$33,5 juta dari Amman Mineral, perusahaan tambang tembaga dan emas yang sekitar 21 persen sahamnya dipegang Medco. Produksi minyak dan gas rata-rata mencapai 169 ribu barel setara minyak per hari, naik 18,1 persen dari tahun lalu dan masih sejalan dengan target produksi 2026 di kisaran 165.000 hingga 170.000 barel per hari.

Dari sisi neraca, MEDC memangkas utang bruto konsolidasi sebesar US$126 juta dibanding akhir 2025, terutama karena pelunasan US$108 juta atas obligasi yang jatuh tempo 2027. Rasio utang bersih grup terbatas (Restricted Group) terhadap EBITDA membaik dari 2,0 kali menjadi 1,7 kali, sementara arus kas dari kegiatan operasi naik 29,7 persen. Perusahaan juga masih memiliki fasilitas pinjaman senilai US$1,8 miliar yang sudah disetujui bank namun belum ditarik.

Materi ini juga mengungkap rencana perluasan operasi ke Malaysia, dengan geologi yang disebut mirip Blok B Natuna Selatan, mencakup empat lapangan produksi yaitu Cendor, East Cendor, West Desaru, dan Irama, dengan produksi saat ini sekitar 7.000 barel minyak per hari dan Medco bertindak sebagai operator dengan kepemilikan 50 persen. Untuk sisa 2026, perusahaan menargetkan proyek Bualuang Fase 1 mulai berproduksi pada kuartal II, melanjutkan pembayaran dividen dan pelunasan utang, serta menetapkan target belanja modal sebesar US$400-430 juta.