PT Harta Djaya Karya Tbk (MEJA) menyampaikan koreksi atas Laporan Realisasi Penggunaan Dana Hasil Penawaran Umum per 30 Juni 2026 yang sebelumnya dikirim pada 7 Juli 2026. Koreksi ini dilakukan setelah Otoritas Jasa Keuangan mengirim surat nomor S-2172/PM.222/2026 tanggal 29 September 2026, dan isinya adalah penyesuaian format serta pelengkapan pengungkapan mengikuti aturan baru OJK Nomor 40 Tahun 2025, termasuk rincian tingkatan penggunaan dana, rekening penampungan, target waktu realisasi, dan pos pencatatan di laporan keuangan. Laporan ini ditandatangani Direktur Utama Richie Adrian Hartanto S.
Untuk dana hasil IPO yang efektif 12 Februari 2024, perseroan memperoleh dana kotor Rp49,44 miliar dengan biaya penawaran Rp4 miliar, sehingga dana bersih Rp45,44 miliar. Setelah RUPSLB 28 November 2024 menyetujui perubahan rencana penggunaan dana menjadi seluruhnya modal kerja, realisasi sampai 30 Juni 2026 tercatat Rp35.952.388.060 atau 79,12 persen dari dana bersih. Sisa dana Rp9.487.611.940 (20,88 persen) masih disimpan di rekening giro Bank Central Asia dengan bunga 1 persen per tahun, dan target penggunaannya ditetapkan pada Oktober 2026.
Sumber dana kedua berasal dari pelaksanaan (konversi) Waran I yang juga efektif 12 Februari 2024. Potensi dana jika seluruh waran dilaksanakan mencapai Rp55,2 miliar, namun dana yang benar-benar masuk sampai 12 Februari 2026 baru Rp36.570.234.830, dan seluruhnya dialokasikan untuk modal kerja. Dari jumlah itu, realisasi sampai 30 Juni 2026 sebesar Rp22.020.389.533 (60,21 persen), dengan sisa Rp14.549.845.297 (39,79 persen) yang juga disimpan di rekening BCA berbunga 1 persen per tahun dan ditargetkan terpakai Oktober 2026.
Secara gabungan, dana IPO dan konversi Waran I yang sudah terpakai mencapai Rp57.972.777.593, tercatat dalam pos Uang Muka Subkontraktor sebesar Rp14.744.515.642 serta Beban Pokok Pendapatan sebesar Rp43.228.261.951, yang terbagi untuk bahan baku Rp10.572.812.822, tenaga kerja langsung Rp4.574.745.921, dan overhead Rp28.080.703.208. Dari sisi biaya penawaran umum IPO sebesar Rp4 miliar, porsi terbesar adalah biaya jasa profesi penunjang pasar modal Rp2.088.983.334 (52,22 persen) dan biaya jasa penyelenggaraan (management fee) Rp1,4 miliar (35 persen), sisanya untuk underwriting fee, lembaga penunjang pasar modal, dan biaya emisi lain-lain.
