PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI), yang menaungi pabrik etanol dan bahan kimia dasar Molindo Raya Industrial di Lawang, Malang, mencatat laba bersih Rp108,34 miliar untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Jumlah ini naik 93,9 persen dibandingkan Rp55,89 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penjualan bersih perseroan hanya naik tipis 3,9 persen menjadi Rp1,15 triliun, namun laba kotor melonjak 28,9 persen menjadi Rp381,49 miliar karena beban pokok penjualan justru turun dari Rp811,41 miliar menjadi Rp769,33 miliar. Laba per saham ikut terdongkrak dari Rp16,45 menjadi Rp33,35.
Di sisi lain, total liabilitas perseroan melonjak 74,54 persen, dari Rp172,03 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp300,25 miliar pada akhir September 2026, kenaikan sebesar Rp128,23 miliar. Dalam surat penjelasan kepada Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Indonesia, Direktur Utama MOLI Jose G. Tan merinci penyebabnya: utang bank jangka pendek naik Rp59,58 miliar untuk membayar uang muka pembelian bahan baku, beban akrual naik Rp21,33 miliar untuk biaya operasional yang jatuh tempo sampai akhir tahun buku, dan utang usaha naik Rp23,59 miliar terkait pembelian bahan bakar, bahan penunjang, dan biaya pengiriman. Sejalan dengan itu, uang muka yang dibayarkan perseroan melonjak dari Rp1,91 miliar menjadi Rp171,33 miliar. Total aset perseroan naik menjadi Rp1,82 triliun dari Rp1,61 triliun, sementara total ekuitas bertambah menjadi Rp1,52 triliun dari Rp1,44 triliun, termasuk pembagian dividen tunai Rp19,99 miliar selama periode tersebut.
Kenaikan uang muka bahan baku itu turut menekan arus kas dari aktivitas operasi, yang anjlok dari Rp313,63 miliar pada sembilan bulan pertama 2025 menjadi Rp38,78 miliar pada periode yang sama tahun ini, meski laba bersih justru naik. Kas dan setara kas perseroan tetap bertambah menjadi Rp95,13 miliar per akhir September 2026, dari Rp68,80 miliar di akhir 2025, salah satunya terbantu oleh pencairan dana sebesar Rp29,10 miliar yang sebelumnya dialokasikan khusus untuk belanja modal.
