PT Sarimelati Kencana Tbk (PZZA), pengelola gerai Pizza Hut di Indonesia, menyampaikan laporan keuangan interim yang tidak diaudit untuk sembilan bulan pertama 2026, berakhir 30 September 2026. Dalam surat pengantar yang ditandatangani Corporate Secretary Andromeda Hermawan Tristanto, perusahaan melaporkan laba bersih kuartal ketiga 2026 sebesar Rp9 miliar, melanjutkan rekam jejak laba selama delapan kuartal berturut-turut sejak kuartal IV 2024. Namun di balik laporan rutin ini, dokumen yang sama juga mengungkap bahwa PZZA kini menjadi pemegang saham mayoritas di dua perusahaan roti dan makanan baru.
Secara kumulatif sembilan bulan, penjualan bersih PZZA justru turun tipis menjadi Rp2,24 triliun dari Rp2,27 triliun pada periode yang sama 2025, dan laba usaha turun dari Rp49,4 miliar menjadi Rp40,6 miliar. Yang naik adalah laba bersih setelah pajak, dari Rp15,9 miliar menjadi Rp17,1 miliar, dengan laba per saham naik dari Rp5,29 menjadi Rp5,74. Kenaikan laba bersih ini terutama ditopang oleh penurunan beban bunga, dari Rp29,2 miliar menjadi Rp19,6 miliar, sejalan dengan klaim perusahaan bahwa total utang telah dipangkas Rp248 miliar atau 54 persen sejak akhir 2024. Total liabilitas perusahaan per akhir September 2026 tercatat Rp782,5 miliar, turun dari Rp894,6 miliar di akhir 2025, meski di sisi lain perusahaan baru menarik utang bank jangka pendek senilai Rp50 miliar yang sebelumnya nol.
Yang baru dalam laporan ini adalah konsolidasi dua anak usaha yang bergerak di bidang akomodasi dan penyediaan makan minum di Jakarta, yaitu PT Tradisi Baru Bakeri yang baru mulai beroperasi komersial pada 2026 dengan total aset Rp32,5 miliar dan kepemilikan PZZA 53,93 persen, serta PT Halal Artisan Yummies yang beroperasi sejak 2025 dengan aset Rp11,2 miliar dan kepemilikan 22,03 persen. Laporan perubahan ekuitas mencatat akuisisi anak usaha ini menambah ekuitas Rp17,4 miliar dan memunculkan pos baru bernama kepentingan non pengendali senilai Rp17,1 miliar, yakni bagian kepemilikan pihak lain di anak usaha yang baru dikonsolidasi. Laporan arus kas juga menunjukkan ada setoran modal dari pemegang saham non pengendali sebesar Rp16,3 miliar pada periode ini, dan perusahaan membayar dividen tunai Rp5 miliar kepada pemegang saham selama sembilan bulan ini.
