PT Moya Indonesia (MOYA) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas permintaan penjelasan bursa tertanggal 2 Oktober 2026 (Nomor S-12647/BEI.PP2/10/2026) terkait realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum Obligasi I Moya Indonesia Tahun 2026 dan Sukuk Wakalah Bi Al-Istitsmar I Moya Indonesia Tahun 2026. Tanggapan ini disampaikan pada 6 Oktober 2026 oleh General Manager MOYA, Elena Anindita. Perlu dicatat, MOYA adalah emiten efek bersifat utang sehingga sahamnya tidak tercatat dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia, laporan ini menyasar investor pemegang obligasi dan sukuk perusahaan.

Dari dana obligasi, Rp202,4 miliar digunakan untuk tambahan setoran modal ke anak usaha PT Moya Tangerang (MT), menggantikan dana MT yang sebelumnya dipakai membangun proyek sistem penyediaan air minum (SPAM) dari fasilitas kredit PT Bank Central Asia Tbk. Perusahaan menyatakan infrastruktur itu kini sudah selesai 100 persen dan beroperasi. Pola serupa terjadi dalam jumlah jauh lebih besar lewat sukuk, Rp991,6 miliar dana sukuk juga dipakai menggantikan dana MT dari fasilitas BCA yang sama, dan sudah terealisasi penuh bersamaan dengan pencairan obligasi. Sementara itu, Rp366,6 miliar dana obligasi disuntikkan ke anak usaha PT Aetra Air Tangerang (AAT) untuk melunasi pokok pinjaman kredit investasi berdasarkan akta perjanjian kredit yang terakhir diubah pada 27 Februari 2026 di hadapan notaris Stephanie Wilamarta, dan dana itu sudah terpakai sejak 28 Juli 2026.

Sisa dana obligasi dialokasikan untuk dua anak usaha yang proyeknya masih berjalan. PT Air Bersih Jakarta (ABJ) mendapat alokasi Rp380,96 miliar untuk membangun instalasi pengolahan air dan jaringan perpipaan berdasarkan perjanjian kerja sama dengan PAM Jaya. Hingga akhir September 2026, baru Rp109,18 miliar yang terpakai, sementara Rp271,78 miliar masih menunggu pencairan sesuai kemajuan fisik proyek. Progres lima pekerjaan ABJ masih beragam, dari SPAM Buaran III Hulu yang sudah 99,82 persen rampung dan proyek brownfield 83,62 persen, hingga SPAM Buaran III Hilir 39,66 persen, serta SPAM Karian Serpong Hilir dan Jatiluhur Hilir yang masing-masing baru 22,09 persen dan 19,81 persen dari target akhir 100 persen. Target penyelesaian seluruh infrastruktur ABJ paling lambat 2031, kecuali proyek brownfield yang dikejar rampung akhir tahun ini. Adapun PT Air Bandung Timur (ABT) baru merealisasikan Rp10 miliar dari total alokasi Rp41,38 miliar, dengan sebagian pekerjaan seperti pembangunan instalasi pengolahan air baru dan pemasangan pompa booster belum dimulai sama sekali, dan target rampung paling lambat 2028.

MOYA juga menegaskan tidak ada informasi material yang belum diungkapkan ke publik yang dapat memengaruhi keputusan investor. Perusahaan merinci kontribusi pendapatan masing-masing anak usaha, dengan ABJ menyumbang 70,98 persen dari total pendapatan perseroan, disusul MT 7,11 persen, AAT 6,08 persen, Air Batam Hulu 4,17 persen, Moya Bekasi Jaya 4,04 persen, ABT 3,24 persen, Air Batam Hilir 2,40 persen, dan Air Semarang Barat 1,72 persen. Satu anak usaha, PT Moya Makassar, belum berkontribusi sama sekali karena belum beroperasi.