Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI) melaporkan hasil public expose insidentil yang digelar Jumat, 14 Agustus 2026 pukul 13.00-13.30 WIB secara daring lewat Google Meet. Acara ini dihadiri Presiden Direktur Robby Loho, Direktur Keuangan Lukcimo Jahja, dan Direktur Anwar Cipto Syamsul, dengan empat peserta eksternal. Tiga agenda dibahas: gambaran umum perusahaan, penjelasan soal keterlambatan laporan keuangan auditan dan laporan tahunan untuk tahun buku 2025, serta perubahan susunan direksi.

Dalam sesi tanya jawab, manajemen menjelaskan bahwa insiden siber yang terjadi pada akhir 2025 menimbulkan beban biaya berupa jasa digital forensik dan tambahan belanja modal (capex) untuk server serta penguatan infrastruktur keamanan sistem. Beban yang muncul di 2025 sudah dibukukan pada tahun itu, sementara pengeluaran di 2026 disesuaikan dengan proses perbaikan yang masih berjalan. Perusahaan menegaskan tidak ada indikasi kebocoran data milik klien, baik ceding, broker reasuransi, maupun tertanggung, dan hasil investigasi forensik independen sudah dilaporkan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang turut mengevaluasi sistem keamanan TI perusahaan.

Terkait pergantian direksi, manajemen menegaskan perubahan itu tidak berkaitan dengan insiden siber maupun tekanan lain, melainkan karena berakhirnya masa jabatan Trinita Situmeang yang digantikan Anwar Cipto Syamsul. Manajemen juga menyampaikan bahwa insiden siber hanya merusak data hasil olahan, bukan data mentah (raw data), sehingga strategi dan rencana bisnis tidak berubah. Namun, perusahaan harus mengulang proses penyusunan laporan sesuai standar akuntansi asuransi IFRS 17 untuk menyelesaikan laporan keuangan auditan tahun buku 2025, yang menurut manajemen membutuhkan waktu dan tenaga besar.