Metropolitan Land Tbk (MTLA) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026. Pendapatan perusahaan naik 4,2 persen menjadi Rp1,18 triliun, dari Rp1,13 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Namun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham entitas induk justru turun 21,5 persen menjadi Rp182,55 miliar, dari Rp232,45 miliar. Akibatnya, laba per saham turun dari Rp30,37 menjadi Rp23,85, sementara jumlah saham beredar tetap di angka 7.655.126.330 lembar.
Penurunan laba terjadi karena beban pokok pendapatan naik lebih cepat dari pendapatan, yaitu 11,2 persen menjadi Rp622,2 miliar, sehingga margin laba kotor tergerus dari 50,5 persen menjadi 47,2 persen. Beban administrasi juga naik 8,8 persen menjadi Rp230,53 miliar dan beban pemasaran naik 5 persen menjadi Rp78,8 miliar. Di sisi lain, pendapatan bunga turun dari Rp13,66 miliar menjadi Rp7,49 miliar, dan pos keuntungan lain-lain menyusut dari Rp20,89 miliar menjadi Rp5,89 miliar, yang ikut menekan laba sebelum pajak hingga turun 21,9 persen menjadi Rp207,05 miliar.
Total aset perusahaan naik 3,5 persen menjadi Rp8,26 triliun per 30 September 2026, dari Rp7,98 triliun di akhir 2025, terutama ditopang kenaikan persediaan aset real estat dan properti investasi. Tapi kas dan setara kas turun 30,8 persen menjadi Rp395,49 miliar, dari Rp571,19 miliar, setelah perusahaan membelanjakan Rp136,65 miliar untuk aset tetap, Rp51,2 miliar untuk properti investasi, dan Rp31,94 miliar untuk tanah belum dikembangkan, ditambah pembagian dividen tunai total Rp84,85 miliar (Rp74,26 miliar untuk pemegang saham induk dan Rp10,6 miliar untuk pemegang saham nonpengendali). Utang bank jangka pendek ikut naik 44,8 persen menjadi Rp432,58 miliar, dari Rp298,85 miliar di akhir 2025. Laporan ini ditandatangani Presiden Direktur Anhar Sudradjat dan Direktur Olivia Surodjo di Bekasi pada 30 Oktober 2026.
