PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menyampaikan laporan keuangan interim tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, melalui surat bernomor 003/MI-ACT/X/2026 yang diteken Direksi pada 27 Oktober 2026. Penjualan bersih perusahaan tercatat Rp28,13 triliun, naik dari Rp27,16 triliun pada periode yang sama tahun 2025. Laba bersih melonjak 31 persen menjadi Rp2,47 triliun dari Rp1,88 triliun, dengan laba per saham naik dari Rp83 menjadi Rp109.
Kenaikan laba terutama didorong oleh membaiknya margin, laba kotor naik dari Rp5,76 triliun menjadi Rp7,06 triliun meski kenaikan penjualan hanya tipis, serta beban bunga yang turun dari Rp442,22 miliar menjadi Rp288,19 miliar seiring pelunasan sebagian utang bank. Di sisi posisi keuangan, total aset perusahaan turun dari Rp31,38 triliun menjadi Rp29,18 triliun, sebagian karena kas dan setara kas berkurang dari Rp5,85 triliun menjadi Rp4,26 triliun. Total liabilitas ikut menyusut tajam dari Rp13,02 triliun menjadi Rp10,01 triliun, dengan utang bank jangka pendek turun dari Rp1,74 triliun menjadi hanya Rp235 miliar. Namun bagian utang obligasi jangka panjang yang kini jatuh tempo dalam setahun tercatat Rp1,24 triliun, dari sebelumnya nol pada akhir 2025.
Arus kas dari aktivitas operasi mencapai Rp3,93 triliun, naik tajam dari Rp1,10 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Arus kas pendanaan tercatat keluar bersih Rp5,23 triliun, dipakai untuk membayar utang bank jangka pendek senilai Rp3,23 triliun, melunasi pinjaman bank jangka panjang Rp2,19 triliun, membayar dividen tunai Rp1,34 triliun, dan membeli kembali saham (treasury stock) senilai Rp323,47 miliar sehingga saldo saham treasuri perusahaan kini mencapai Rp673,36 miliar. Total ekuitas perusahaan tetap naik dari Rp18,36 triliun menjadi Rp19,17 triliun meski ada pembayaran dividen dan pembelian kembali saham tersebut.
