Ekspor Jawa Barat naik 6,43 persen jadi US$23,58 miliar, impor turun 1,45 persen jadi US$6,95 miliar, sehingga surplus dagang Januari-Juli 2026 mencapai US$16,63 miliar.
2 September 2026Dirangkum dari tvOneNews
Foto: tvOneNews
Neraca perdagangan Jawa Barat mencatat surplus US$16,63 miliar sepanjang Januari-Juli 2026, ditopang oleh nilai ekspor yang jauh melampaui impor. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat yang dirilis 1 September 2026, ekspor provinsi ini mencapai US$23,58 miliar, naik 6,43 persen dibanding periode yang sama tahun lalu, sementara impor tercatat US$6,95 miliar, turun 1,45 persen. Surplus yang melebar ini penting karena mencerminkan kekuatan basis manufaktur dan ekspor Jawa Barat, salah satu provinsi dengan kontribusi ekspor terbesar di Indonesia.
Dari sisi ekspor, kenaikan terjadi di hampir semua sektor. Ekspor nonmigas, yaitu di luar minyak dan gas, naik 6,35 persen menjadi US$23,40 miliar, sementara ekspor migas naik lebih tinggi secara persentase, 16,85 persen, menjadi US$178,27 juta meski nilainya jauh lebih kecil. Sektor pertanian mencatat kenaikan ekspor tertinggi sebesar 18,51 persen, disusul industri pengolahan 6,29 persen, sementara sektor pertambangan menjadi satu-satunya yang ekspornya turun, minus 3,31 persen. Di level komoditas, kelompok mesin dan peralatan mekanis jadi penopang utama dengan kenaikan US$418,86 juta atau 23,94 persen, sedangkan kelompok karet dan barang dari karet mengalami penurunan terbesar, US$114,86 juta atau 12,72 persen.
Angka BPSNeraca perdagangan
0,12 miliar US$Juli 2026
Selisih ekspor dikurangi impor. Positif berarti surplus. Naik 0,57 miliar US$ dibanding Juni 2026. Posisinya di bawah rata-rata 12 bulan terakhir (2.093,66).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Neraca Perdagangan. Diolah The Signal.
Amerika Serikat tetap jadi tujuan ekspor nonmigas terbesar Jawa Barat dengan nilai US$3,98 miliar, diikuti Filipina US$2,07 miliar dan Jepang US$1,69 miliar, tiga negara ini menyumbang 33,09 persen dari total ekspor nonmigas. Kawasan ASEAN menyerap ekspor senilai US$6,27 miliar, sementara pasar Amerika dan Eropa secara gabungan mencapai US$8,87 miliar.
Di sisi impor, penurunan justru didorong oleh anjloknya impor migas sebesar 56,80 persen menjadi US$376,54 juta, sementara impor nonmigas malah naik 6,35 persen menjadi US$6,58 miliar. Komoditas impor nonmigas yang turun paling dalam adalah mesin dan peralatan mekanis, senilai US$138,48 juta atau 22,23 persen, sejalan dengan kenaikan ekspor komoditas yang sama.
Ada yang ingin ditanyakan soal berita ini? Bot kami menjawab dari arsip The Signal, lengkap dengan tautan artikelnya.Tanya ke bot The Signal
Mau tahu arahnya, bukan cuma beritanya?Tiap malam hari kerja, satu tulisan yang menjawab ke mana ekonomi bergerak hari itu dan apa yang akan menentukan arahnya. Plus angka pembanding yang tidak ada di situs. Gratis.
Signal+
Ke mana ekonomi bergerak hari ini, dan apa artinya buat keputusanmu besok.
Dikirim tiap malam hari kerja setelah seluruh berita hari itu dibaca.
Formulir pendaftarannya membutuhkan
JavaScript; kalau tidak muncul, daftar langsung lewat halaman Buttondown
kami.