PT Charnic Capital Tbk (NICK) menyampaikan jawaban resmi atas surat permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia nomor S-12259/BEI.PP2/09-2026 tanggal 22 September 2026. Dalam surat balasan bernomor 057/CC/IX/2026 yang ditandatangani Direktur Utama Anton Santoso, perusahaan menjelaskan bahwa bisnisnya mencakup penyewaan aset properti perkantoran milik sendiri, portofolio investasi di saham-saham tercatat di bursa, serta tiga anak usaha yaitu PT Charnic Land Investment (penyewaan properti), PT Energindo Nusantara (kelistrikan), dan PT Okansa Pacific (green mobility lewat penyewaan kendaraan listrik). Untuk tahun 2026, perusahaan menyatakan fokus strategisnya adalah mengembangkan bisnis EV melalui Okansa Pacific.
Perusahaan mengonfirmasi kerugian investasi portofolio efek sebesar Rp33 miliar per 30 Juni 2026. Manajemen menjelaskan kerugian itu berasal dari penurunan nilai yang belum direalisasikan, dihitung dengan metode mark to market karena pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan sepanjang 2026 akibat situasi geopolitik dan perubahan kebijakan pasar modal. Charnic Capital menyebut kerugian ini bersifat sementara dan meyakini saham blue chip di portofolionya akan pulih serta menguntungkan dalam jangka panjang, dengan strategi tetap berinvestasi di perusahaan sektor esensial berbasis analisis fundamental.
Soal kinerja anak usaha, penjualan barang dan servis sebesar Rp24,9 miliar per Juni 2026 seluruhnya berasal dari konsolidasi PT Energindo Nusantara, dengan beban pokok pendapatan Rp10,8 miliar dari kegiatan yang sama. Pelanggan terbesar yang disebutkan adalah PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Norgantara Energy Engineering, PT Wibon Kreasi Mandiri, dan PT Berkat Jaya Elektro, sementara vendor barang dagangnya adalah RTDS Technologies Inc asal Kanada dan ALL-TEST Pro asal Amerika Serikat. Perusahaan menegaskan tidak memerlukan gudang karena menerapkan sistem zero inventory, yakni barang baru dibeli setelah ada pesanan pelanggan dan langsung dikirim tanpa disimpan. Manajemen juga menilai kenaikan harga saham NICK didorong oleh membaiknya kegiatan usaha Okansa Pacific dan Energindo Nusantara, serta memastikan tidak ada perkara hukum, kontrak baru yang material, atau informasi material lain yang belum diungkapkan ke Bursa.
