PT Charnic Capital Tbk (NICK) menjawab surat permintaan penjelasan lanjutan Bursa Efek Indonesia nomor S-12511/BEI.PP2/09-2026 tanggal 29 September 2026, yang dikirim kembali oleh Corporate Secretary Nicholas Santoso pada 30 September 2026. Perseroan merinci dua akuisisi anak usaha yang menopang strategi green business: PT Okansa Pacific, yang bergerak di penyewaan kendaraan listrik dengan merek BYD, Denza, dan Wuling, serta PT Energindo Nusantara, yang menyewakan mesin genset dan memiliki perjanjian pasokan listrik dengan PT PLN (Persero) untuk wilayah Maba Buli, Maluku. Per 30 September 2026, NICK telah menyetor modal Rp9,999 miliar ke Okansa Pacific dan Rp34,999 miliar ke Energindo Nusantara, seluruhnya menggunakan kas internal tanpa utang baru. Selama semester I 2026, Okansa Pacific menambah aset kendaraan senilai Rp27,5 miliar berupa satu unit BYD Denza D9, 74 unit BYD M6, dan satu unit BYD Sealion, yang sebagian didanai dari pos pendanaan lain senilai Rp26 miliar.
Dari sisi pendapatan, NICK membukukan penjualan barang dan jasa Rp24,9 miliar pada semester I 2026, tapi Rp21,3 miliar di antaranya berasal dari satu transaksi penjualan satu set sistem Novacor kepada PT Okansa Indonesia, pihak yang oleh perusahaan sendiri dikonfirmasi berstatus afiliasi. Sisanya adalah Rp3,5 miliar dari penjualan listrik ke PT PLN (Persero) dengan rata-rata Rp550 juta per bulan, dan Rp94 juta dari penjualan 21 unit alat kelistrikan. Lima pelanggan terbesar grup per 30 Juni 2026 adalah PT Okansa Indonesia Rp21,3 miliar (afiliasi, barang), PT PLN (Persero) Rp2,13 miliar (jasa), PT Gerbang Sinergi Prima Rp1,67 miliar (jasa), PT Norgantara Energi Engineering Rp1,39 miliar (jasa), dan PT Wibon Kreasi Mandiri Rp89,9 juta (barang). Perseroan juga melaporkan utang usaha Rp2 miliar per Juni 2026, seluruhnya belum jatuh tempo, terbagi ke PT Harmoni Target Indonesia Rp1,29 miliar, PT Norgantara Energi Engineering Rp343,1 juta, PT Gratio Artha Prima Rp322,4 juta, dan PT Indopremier Sekuritas Rp69,6 juta.
Arus kas dari aktivitas operasional tercatat keluar Rp14,3 miliar pada semester I 2026, naik dari Rp7,2 miliar pada periode sama tahun lalu, yang menurut manajemen terutama dipicu efek konsolidasi laporan keuangan dengan entitas anak, termasuk kenaikan pajak dibayar dimuka dan pembayaran ke pemasok yang melonjak dari Rp727,7 juta menjadi Rp19,3 miliar. Perseroan menegaskan tidak memiliki perkara hukum dari kreditur maupun pemasok, dan tidak berencana melakukan aksi korporasi dalam satu tahun ke depan. Jumlah karyawan tetap turun dari 5 orang per akhir 2025 menjadi 4 orang per Juni 2026, yang menurut manajemen tetap memadai karena Perseroan beroperasi sebagai holding company yang mengandalkan efisiensi.
