PT Charnic Capital Tbk (NICK) membukukan rugi bersih Rp332,04 juta untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, berbalik dari laba Rp83,37 miliar pada periode yang sama tahun 2025. Penyebab utamanya adalah kerugian dari trading portofolio efek sebesar Rp23,36 miliar, berbalik dari keuntungan Rp93,36 miliar setahun sebelumnya, yang membuat total pendapatan usaha turun dari Rp102,21 miliar menjadi Rp14,58 miliar. Rugi per saham tercatat Rp0,51, dibanding laba per saham Rp128,04 pada periode sebelumnya.

Di luar portofolio efek, lini bisnis inti perusahaan justru tumbuh. Pendapatan dari sewa kendaraan listrik, segmen baru yang dijalankan anak usaha PT Okansa Pacific, tercatat Rp5,92 miliar, dari nol pada tahun sebelumnya. Penjualan barang dan jasa naik dari Rp4,73 miliar menjadi Rp28,06 miliar, dan pendapatan sewa properti naik dari Rp1,61 miliar menjadi Rp1,96 miliar. Total aset perusahaan naik 24,3 persen dari Rp314,43 miliar menjadi Rp390,86 miliar, didorong lonjakan aset tetap dari Rp20,39 miliar menjadi Rp75,83 miliar akibat pembelian kendaraan listrik untuk disewakan. Total liabilitas melonjak dari Rp2,91 miliar menjadi Rp79,67 miliar, terutama dari pinjaman bank jangka panjang baru senilai Rp65,2 miliar yang dipakai membiayai pembelian kendaraan tersebut. Ekuitas perusahaan relatif stabil di Rp311,19 miliar, hampir sama dengan Rp311,52 miliar pada akhir 2025.

Karena perubahan total aset dan liabilitas melampaui 20 persen, manajemen mengirim surat penjelasan resmi kepada Bursa Efek Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan yang ditandatangani Direktur Utama Anton Santoso. Surat itu menyebut kenaikan aset berasal dari pembelian kendaraan listrik untuk bisnis sewa anak usaha PT Okansa Pacific, dan kenaikan liabilitas berasal dari pembiayaan untuk pembelian kendaraan tersebut, yang menurut manajemen wajar seiring berkembangnya operasional perusahaan.