PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) menjawab surat Bursa Efek Indonesia nomor S-13203/BEI.PP2/10-2026 tanggal 19 Oktober 2026 yang meminta penjelasan atas rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD I atau rights issue). Dalam jawaban tertanggal 21 Oktober 2026, perusahaan mengungkap bahwa pendapatan 2025 turun menjadi Rp2,35 miliar dari Rp9,02 miliar pada 2024, sementara rugi bersih justru naik menjadi Rp9,95 miliar sehingga akumulasi rugi mencapai Rp20,36 miliar. Auditor memberikan penekanan khusus atas kelangsungan usaha perseroan. Sejak September 2025, Poh Holding Pte Ltd menjadi pemegang saham pengendali dengan kepemilikan 35,85 persen.

Rights issue ini berpotensi menerbitkan maksimal 2.443.000.000 saham baru, setara seluruh saham dalam portepel, dengan rasio maksimal sekitar 2.157 saham lama berbanding 2.443 HMETD atau kira-kira 1 banding 1,13. Harga pelaksanaan dan rasio final belum ditetapkan dan akan diumumkan dalam Prospektus, dengan batas bawah harga sebesar nilai nominal Rp10 per saham. Perseroan belum menunjuk pembeli siaga, dan Poh Holding Pte Ltd hanya menyatakan akan "mempertimbangkan" melaksanakan haknya, bukan komitmen pasti. Jika seluruh pemegang saham melaksanakan hak mereka, kepemilikan Poh Holding dan Djoni (komisaris/pemegang saham utama) tetap di 35,85 persen dan 5,10 persen. Namun dalam skenario hanya keduanya yang melaksanakan hak sementara publik tidak, porsi Poh Holding naik menjadi 52,23 persen dan Djoni menjadi 7,43 persen, sedangkan porsi publik turun dari 58,98 persen menjadi 40,29 persen, atau bahkan ke 27,66 persen dalam skenario terburuk di mana sisa saham diambil oleh pengendali atau pembeli siaga. Dilusi maksimal dari seluruh rencana ini mencapai sekitar 53,11 persen.

Dana hasil rights issue, setelah dikurangi biaya emisi, akan dialokasikan sekitar 25 persen untuk pelunasan utang segera setelah dana diterima, dan sekitar 75 persen untuk modal kerja yang akan digunakan bertahap paling lambat 12 bulan setelah dana diterima. Rincian kreditur yang akan dilunasi, suku bunga, dan jatuh tempo baru akan diungkap dalam Prospektus. Perseroan juga masih menyelesaikan audit laporan keuangan periode 30 Juni 2026 oleh KAP Irfan Waluyo & Rekan, dengan target penyampaian ke OJK dan BEI paling lambat minggu pertama November 2026.

Perseroan juga mengungkap bahwa pada 29 Desember 2025 telah menandatangani perjanjian opsi untuk mengakuisisi aset tambang di Mongolia milik Poh Golden Ger Resources Pte Ltd, pihak terafiliasi dari pemegang saham pengendali, dengan nilai indikatif US$150 juta. Nilai final akuisisi akan ditentukan dari rata-rata penilaian dua penilai independen, dan jika dilanjutkan akan mengikuti ketentuan transaksi material serta transaksi afiliasi, termasuk persetujuan RUPS. Di luar itu dan rencana penerbitan surat utang di masa depan, perseroan menyatakan tidak ada aksi korporasi lain dalam 12 bulan setelah rights issue.