PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART) menyampaikan surat tanggapan kepada Bursa Efek Indonesia atas permintaan penjelasan bursa nomor S-12233/BEI.PP2/09-2026 tanggal 22 September 2026 terkait laporan keuangan perseroan per 30 Juni 2026. Surat tanggapan bernomor S-164/PART-DIRUT/09-2026 itu ditandatangani Direktur Tjoeng Rino Saputra dan disampaikan pada 24 September 2026.
Perseroan menjelaskan saldo piutang usaha pihak ketiga naik 26,30 persen menjadi Rp44,97 miliar per 30 Juni 2026 dari Rp35,61 miliar pada akhir 2025, sejalan dengan penjualan semester I 2026 yang naik 24,93 persen menjadi Rp177,64 miliar dari Rp142,19 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lima pelanggan menyumbang kenaikan piutang terbesar, yaitu PT Chandra Nugerahcipta naik Rp3,28 miliar menjadi Rp7,04 miliar, PT Kharisma Zahra Mandiri yang sebelumnya nihil menjadi Rp3,02 miliar, PT Anugerah Steel Mandiri naik Rp1,41 miliar menjadi Rp2,29 miliar, PT Yasufuku Indonesia naik Rp650 juta menjadi Rp2,17 miliar, dan PT Chemco Harapan Nusantara naik Rp297 juta menjadi Rp3,57 miliar. Perseroan menyebut telah menagih Rp72,7 miliar piutang sampai 31 Agustus 2026, terdiri dari Rp33,62 miliar pada Juli dan Rp39,08 miliar pada Agustus, sementara piutang macet di atas 90 hari senilai Rp2,77 miliar seluruhnya berasal dari satu pelanggan, PT Kurnia Karya Perdana Lancar, dan sudah dicadangkan penuh.
Di sisi lain, saldo persediaan turun 19,68 persen menjadi Rp49,98 miliar, terutama karena persediaan barang jadi turun Rp16,79 miliar menjadi Rp25,38 miliar setelah terjualnya produk Gas Oil Water Fryer, meski persediaan bahan baku dan barang dalam proses justru naik. Kecepatan perputaran persediaan melambat dari 3,84 kali pada semester I 2025 menjadi 2,63 kali pada semester I 2026. Uang muka perusahaan melonjak 1.198,07 persen menjadi Rp36,86 miliar, terdiri dari uang muka pembelian mesin Rp18,57 miliar kepada PT Gemilang Karya Metal Abadi dan ACL Sheet Indonesia, serta uang muka pembelian material impor Rp18,29 miliar kepada pemasok di Jepang dan Tiongkok, untuk memenuhi pesanan pembuatan mesin pengolahan limbah dan peralatan pertanian dari pelanggan.
Aset tetap bersih perseroan naik 17,42 persen menjadi Rp257,12 miliar, didorong penambahan mesin senilai Rp51,31 miliar berupa dies GKMA Rp28,16 miliar, mesin Yushida Straight Side Double Crank Press Machine 630T Rp21,50 miliar, serta mesin dan peralatan produksi lain Rp1,65 miliar untuk mendukung produksi komponen otomotif, yang dibiayai sebagian dari fasilitas pembiayaan perbankan. Sementara itu, utang usaha pihak ketiga turun 16,35 persen menjadi Rp12,25 miliar setelah dibayar dengan dana hasil pelaksanaan Waran Seri I, sedangkan pinjaman bank jangka pendek dari fasilitas Kredit Lokal BCA naik 197,19 persen menjadi Rp6,91 miliar untuk membiayai kebutuhan modal kerja.
