Pemerintah sedang menyiapkan fasilitas penyimpanan minyak mentah hasil impor di beberapa titik Sumatra, dengan target agar stok bisa menahan kebutuhan hingga 60 hari. Rencana ini dibahas dalam rapat terbatas bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (3/11). Fasilitas tambahan ini penting karena Indonesia masih mengandalkan impor untuk sebagian minyak mentahnya, sehingga stok penyangga yang lebih besar bisa mengurangi risiko kalau pasokan dari luar negeri terganggu.
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan studi kelayakan pembangunan storage tersebut sudah selesai. Pemerintah akan melanjutkan ke tahap peninjauan lokasi mulai akhir tahun ini, dengan memperhitungkan aspek teknis, keselamatan, dan potensi risiko bencana di lokasi yang dipilih, agar penempatan fasilitas penyimpanan minyak itu tidak menimbulkan bahaya baru bagi warga sekitar.
Nilai barang yang dibeli Indonesia dari luar negeri. Naik 1,17 miliar US$ dibanding Agustus 2026. Posisinya di atas rata-rata 12 bulan terakhir (22.684,6).
Sumber: Badan Pusat Statistik, Nilai Impor. Diolah The Signal.
Selain storage minyak, pemerintah juga menyiapkan peta jalan bahan bakar nabati pengganti bensin, yaitu bioetanol, yang akan dikembangkan bertahap dari campuran E20 sampai E50, artinya porsi etanol yang dicampur ke bensin dinaikkan berangsur dari 20 persen menuju 50 persen. Pengembangan ini akan melibatkan Kementerian ESDM bersama Kementerian Pertanian, terutama untuk memastikan pasokan bahan baku dari sisi hulu seperti tanaman penghasil etanol.
Program mandatori biodiesel B50, yakni kewajiban mencampur 50 persen bahan bakar nabati dari sawit ke dalam solar, juga dipastikan tetap berjalan. Pemerintah menyebut langkah-langkah ini sebagai bagian dari upaya memperkuat pasokan energi dari dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor, meski implementasi storage dan bioetanol lanjutan masih menunggu tahapan berikutnya.
