PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menyampaikan materi Public Expose Tahunan kepada Bursa Efek Indonesia melalui surat bertanggal 28 Oktober 2026, merujuk pada pemberitahuan rencana public expose yang sebelumnya disampaikan pada 23 Oktober 2026. Dalam paparan tersebut turut diperkenalkan jajaran direksi perseroan, yaitu Presiden Direktur Fransetya H. Hutabarat, Direktur Keuangan Andi Joko Nugroho, Direktur Operasi Edwil Suzandi, dan Direktur Eksplorasi dan Pengembangan Ahmad Yani.
Materi tersebut memuat kinerja perusahaan sepanjang sembilan bulan pertama 2026 (9M2026). Pendapatan tercatat US$352,20 juta, setara 78 persen dari target pendapatan setahun penuh 2026. Laba bersih mencapai US$126,62 juta, sementara EBITDA, yakni laba operasional sebelum bunga, pajak, depresiasi dan amortisasi, tercatat US$287,77 juta. Dari sisi operasional, pembangkit milik sendiri menghasilkan listrik 4.113 gigawatt-jam dengan faktor kapasitas 89,9 persen dan faktor ketersediaan pembangkit 98,51 persen. Perusahaan juga mengklaim penghindaran emisi karbon setara 1,938 juta ton CO2 dibandingkan bila volume listrik yang sama dihasilkan dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara.
Soal tata kelola, PGE mencatat skor 122,52 pada ASEAN Corporate Governance Scorecard dan masuk 20 besar perusahaan tercatat kelas aset ASEAN. Perusahaan menyatakan telah memenuhi (comply) syarat kepemilikan saham publik minimum atau free float sebesar 12,5 persen yang harus dipenuhi sebelum 31 Maret 2027 sesuai aturan ASEAN Capital Markets Forum. Materi ini juga menyinggung kondisi pasar modal domestik, termasuk penjualan bersih saham oleh investor asing senilai Rp94,87 triliun sepanjang 2026 serta rencana MSCI membuka konsultasi untuk mengkaji ulang klasifikasi Indonesia dari status pasar berkembang menjadi pasar mandiri.
