PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) melaporkan penjualan bersih Rp566,1 miliar untuk sembilan bulan pertama 2026, naik dari Rp537,8 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Setelah beban pokok penjualan turun menjadi Rp325,8 miliar, laba kotor perusahaan sawit asal Kalimantan Timur ini mencapai Rp240,3 miliar, naik dari Rp199,6 miliar. Laba usaha naik dari Rp148,7 miliar menjadi Rp187,7 miliar, turut terdorong oleh keuntungan perubahan nilai wajar aset biologis sebesar Rp16,3 miliar, berbalik dari kerugian Rp6,1 miliar pada periode sebelumnya. Laba bersih periode berjalan tercatat Rp135,4 miliar, naik 33,5 persen dari Rp101,4 miliar, sehingga laba per saham dasar naik dari Rp17,68 menjadi Rp23,61.

Di sisi neraca, total aset perusahaan relatif stabil di Rp2,53 triliun per 30 September 2026, dari Rp2,52 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas justru turun dari Rp602,1 miliar menjadi Rp513,1 miliar, terutama karena PGUN melunasi utang bank sebesar Rp102,99 miliar sepanjang sembilan bulan tersebut, menyisakan utang bank jangka pendek dan jangka panjang masing-masing Rp109,07 miliar dan Rp148,76 miliar. Penurunan liabilitas ini mengangkat ekuitas perusahaan dari Rp1,92 triliun menjadi Rp2,01 triliun. Perusahaan juga membagikan dividen Rp39,99 miliar pada periode ini, naik dari Rp11,88 miliar tahun sebelumnya.

Namun, arus kas bersih dari aktivitas operasi justru turun dari Rp262,56 miliar menjadi Rp165,58 miliar meski laba bersih naik. Penyebab utamanya adalah piutang usaha dari pihak berelasi yang melonjak dari Rp147,57 miliar menjadi Rp211,36 miliar, serta persediaan yang naik dari Rp41,34 miliar menjadi Rp77,68 miliar. Beban umum dan administrasi juga naik tajam dari Rp32,57 miliar menjadi Rp58,04 miliar. Kas dan setara kas akhir periode tercatat Rp7,51 miliar, sedikit naik dari Rp6,46 miliar di akhir 2025. Laporan keuangan interim ini tidak diaudit, ditandatangani oleh Direktur Utama Jonet Budiarto dan Direktur Keuangan Tamlikho pada 22 Oktober 2026.