PT Prima Globalindo Logistik Tbk. (PPGL) mengoreksi surat jawabannya kepada Bursa Efek Indonesia yang sebelumnya dikirim pada 17 September 2026, terkait permintaan penjelasan seputar divestasi 45,79 persen saham PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA). Manajemen menjelaskan nilai transaksi divestasi sebesar Rp44,60 miliar mengacu pada penilaian Kantor Jasa Penilai Publik Dasa'at Yudistira & Rekan tertanggal 22 Januari 2026, yang menghitung nilai pasar wajar 45,79 persen ekuitas JAYA sebesar Rp42,8 miliar memakai dua metode, yaitu proyeksi arus kas masa depan yang didiskon ke nilai sekarang dan perbandingan dengan perusahaan sejenis yang sudah tercatat di bursa. Harga transaksi Rp44,60 miliar berada di atas nilai pasar hasil appraisal itu, meski masih di bawah porsi aset neto JAYA yang tercatat Rp56,33 miliar. Transaksi ini sudah disetujui pemegang saham lewat RUPSLB yang aktanya diteken notaris Gatot Widodo pada 12 Maret 2026.

Dampak pelepasan JAYA terlihat jelas pada laporan keuangan PPGL per 30 Juni 2026, karena JAYA dan entitas anaknya tidak lagi dikonsolidasikan. Kas dan setara kas turun menjadi Rp4 miliar dari Rp10,13 miliar, sementara deposito berjangka turun menjadi Rp2 miliar dari Rp5,01 miliar. Sejumlah pos bahkan nihil sama sekali setelah sebelumnya bernilai besar, antara lain properti investasi yang hilang dari Rp58,28 miliar, aset tetap neto yang anjlok tinggal Rp478,56 juta dari Rp252,47 miliar, aset hak-guna dari Rp6,09 miliar, utang bank dari Rp2,98 miliar, dan utang lain-lain dari Rp138,46 miliar yang sebagian besar sebelumnya adalah kewajiban kepada PT Rahardja Ekalancar sebesar Rp78,19 miliar dan PT Tunas Mobilindo Perkasa sebesar Rp59,50 miliar untuk pembelian kendaraan. Perseroan menyebut piutang usaha Rp21,9 miliar dan utang usaha Rp2,04 miliar per akhir Juni 2026 sudah lunas seluruhnya pada saat jawaban ini disampaikan.

Poin yang belum tuntas ada pada piutang lain-lain kepada pemegang saham senilai Rp21,62 miliar per 30 Juni 2026, sisa dari total nilai divestasi JAYA Rp44,60 miliar setelah sebagian dipakai membayar dividen Rp30,46 miliar pada 17 Juni 2026. Perseroan menyatakan piutang ini dikenakan bunga yang dihitung bulanan sesuai perjanjian dengan pemegang saham, mengoreksi asumsi Bursa yang sebelumnya mempertanyakan kemungkinan fasilitas tanpa bunga. Menjawab pertanyaan Bursa soal kemampuan menjaga kelangsungan usaha setelah kehilangan JAYA, yang sebelumnya menyumbang 90,09 persen total aset dan 45,80 persen laba bersih PPGL, manajemen hanya menyebut akan fokus memasarkan jasa ke pelanggan potensial tanpa merinci langkah atau target konkret.