PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) menyampaikan tanggapan resmi kepada Bursa Efek Indonesia atas surat permintaan penjelasan tertanggal 29 September 2026. Dalam surat bernomor 139/CORSEC/EKS/X/2026 yang diteken Marina Eka Amalia selaku Direktur sekaligus Corporate Secretary, perseroan menjelaskan sejumlah pos keuangan yang berubah dalam laporan keuangan per 30 Juni 2026. Salah satu yang disorot bursa adalah kas dan setara kas yang turun Rp46,34 miliar atau 7,9 persen, dari Rp589,08 miliar pada akhir 2025 menjadi Rp542,73 miliar pada akhir Juni 2026. Manajemen menyebut penurunan ini berasal dari pembayaran ke karyawan, pemasok, pembelian aset tetap, dan penempatan dana ke instrumen keuangan lain, namun menegaskan kondisi likuiditas perseroan masih sehat dengan rasio likuiditas tinggi.

Soal piutang usaha yang naik tipis 0,51 persen menjadi Rp204,71 miliar, perseroan merinci bahwa piutang dari BPJS Kesehatan naik 4 persen atau Rp4,68 miliar dibanding Juni 2025, sementara piutang dari pihak berelasi justru turun karena perbedaan waktu pencatatan, bukan penurunan transaksi. Piutang yang sudah menunggak lebih dari 60 hari tercatat Rp27.986 juta, dan Rp23.189 juta di antaranya sudah berhasil ditagih. Di pos aset tetap, nilainya turun 2,78 persen menjadi Rp690,33 miliar karena beban penyusutan Rp49,18 miliar lebih besar dibanding penambahan aset baru yang hanya Rp29,54 miliar, mencerminkan sikap perseroan yang lebih selektif dalam belanja modal tahun ini. Proyek renovasi laboratorium yang tercatat sebagai aset dalam pembangunan sudah mencapai 95 persen dan disebut akan menambah kapasitas pemeriksaan begitu rampung.

Perseroan juga mengonfirmasi bahwa seluruh kewajiban Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar atas PPh Pasal 21 dan PPN senilai Rp345.103.699 untuk periode September 2025, beserta tunggakan pajak tahun buku 2024, telah dilunasi penuh dan tidak lagi tercatat dalam laporan keuangan per Juni 2026. Di sisi lain, aset tak berwujud turun 12,79 persen menjadi Rp227,07 miliar seiring penambahan aset baru yang anjlok 97,67 persen dibanding periode sebelumnya, karena sebagian besar proyek sistem sudah rampung di periode lalu. Sistem teknologi informasi terintegrasi yang baru, mencakup perangkat lunak dan infrastruktur basis data, sudah 85 persen selesai dan ditargetkan rampung September 2026. Utang usaha perseroan juga naik 11,39 persen menjadi Rp47,99 miliar dari Rp42,52 miliar, dengan peningkatan antara lain berasal dari utang kepada PT Inti Makmur Meditama dan PT Diastika Biotekindo.