Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia mendapat pengakuan dari sejumlah lembaga pemeringkat kredit internasional, baik dari negara-negara Barat maupun China. Ia menyampaikan hal ini di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Jumat, 14 Agustus 2026. Pengakuan semacam ini penting karena peringkat kredit suatu negara ikut menentukan seberapa mahal atau murah negara itu bisa meminjam dana di pasar keuangan internasional.

Presiden Prabowo menyebut lembaga pemeringkat asal China, China Lianhe Rating, memberikan rating AAA dengan outlook stabil untuk penerbitan Panda Bonds Republik Indonesia, yaitu obligasi pemerintah RI yang diterbitkan dalam mata uang yuan di pasar China. Menurutnya, itu merupakan level tertinggi yang bisa diberikan lembaga tersebut. Presiden Prabowo menyebut pencapaian ini sebagai bukti fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat di tengah ketidakpastian global, sekaligus menegaskan Indonesia masih berada pada kategori kelayakan investasi, yakni golongan peringkat yang dianggap aman oleh investor besar dunia untuk menaruh dananya.

Selain itu, Presiden Prabowo menyebut Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB, dalam keputusan yang diambil pada 13 Juli 2026. Ia mengutip penilaian S&P bahwa prospek ekonomi Indonesia kokoh, kebijakan makroekonomi dijalankan secara hati-hati, dan beban utang pemerintah relatif terjaga serta berkelanjutan dibandingkan negara-negara sekelas.

Presiden Prabowo menilai kedua penilaian itu, dari China maupun S&P, menunjukkan pemerintah berhasil menjaga kebijakan yang membuat kondisi ekonomi Indonesia tetap kokoh di tengah situasi global yang tidak menentu.