PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) menyampaikan laporan keuangan konsolidasian interim yang tidak diaudit untuk periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2026, sesuai surat pernyataan direksi bertanggal 30 Oktober 2026. Pendapatan perusahaan properti ini naik tipis menjadi Rp5,21 triliun dari Rp5,12 triliun pada periode yang sama tahun lalu, namun laba bersih turun 16 persen menjadi Rp1,78 triliun dari Rp2,12 triliun. Bagian laba yang menjadi hak pemegang saham pengendali turun lebih dalam, 19,3 persen, dari Rp1,73 triliun menjadi Rp1,39 triliun, sehingga laba per saham dasar turun dari Rp35,85 menjadi Rp28,93.
Penurunan laba sebagian besar berasal dari pos di luar bisnis inti. Tahun lalu Pakuwon mencatat untung Rp30,4 miliar dari penawaran tender pembelian kembali obligasi yang tidak berulang tahun ini, sementara pos lain-lain bersih berbalik dari untung Rp238,2 miliar pada 2025 menjadi rugi Rp327,7 miliar pada 2026. Beban umum dan administrasi juga naik dari Rp423,5 miliar menjadi Rp466,3 miliar. Di sisi lain, rugi selisih kurs mengecil dari Rp157 miliar menjadi Rp44,9 miliar dan untung dari instrumen keuangan derivatif naik dari Rp1,3 miliar menjadi Rp72,4 miliar.
Di sisi keuangan, total aset perusahaan naik menjadi Rp37,73 triliun dari Rp36,47 triliun, dan ekuitas naik menjadi Rp27,41 triliun dari Rp26,62 triliun. Kas dan setara kas justru menyusut menjadi Rp4,54 triliun dari Rp5,19 triliun, terutama karena perusahaan menempatkan Rp1,85 triliun dananya ke investasi reksadana baru, jauh lebih besar dibanding penempatan investasi obligasi yang hanya Rp82,5 miliar. Kas yang dihasilkan dari kegiatan operasi sehari-hari justru membesar, dari Rp2,06 triliun menjadi Rp2,56 triliun, dan saldo utang obligasi perusahaan naik dari Rp5,58 triliun menjadi Rp5,99 triliun.
Perusahaan membagikan dividen tunai sekitar Rp625 miliar kepada pemegang saham, jumlahnya relatif sama dengan periode sembilan bulan tahun lalu. Yang melonjak adalah dividen yang dibagikan anak-anak usaha Pakuwon kepada mitra pemegang saham minoritas di level anak usaha, dari Rp37,5 miliar pada sembilan bulan 2025 menjadi Rp350,3 miliar pada sembilan bulan 2026.
