PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) memutuskan menunda pelaksanaan Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu II (PMHMETD II atau rights issue kedua) yang sebelumnya disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada April 2026 untuk mendanai akuisisi dan memperkuat struktur permodalan. Dalam materi Paparan Publik Semester I 2026 yang dipublikasikan 18 Agustus 2026, manajemen menyebut keputusan itu, yang sudah diumumkan lewat surat No. 143/PYFA-CS/VI/2026 tanggal 12 Juni 2026, mempertimbangkan kondisi pasar modal dan makroekonomi yang belum kondusif, dengan Indeks Harga Saham Gabungan tercatat turun 26,7 persen sejak awal tahun per 7 Agustus 2026. Perseroan menegaskan penundaan ini tidak berdampak material terhadap operasional, posisi hukum, kondisi keuangan, maupun kelangsungan usaha, dan akan meninjau kembali waktu pelaksanaannya setelah kondisi pasar dinilai stabil.

Dari sisi kinerja, penjualan bersih PYFA naik 17 persen menjadi Rp1.617,5 miliar pada semester I 2026 dari Rp1.385,4 miliar pada periode sama tahun lalu, didorong pertumbuhan Probiotec Group di Australia. Laba bruto naik sekitar 27 persen menjadi Rp373,1 miliar dengan marjin membaik dari 21,3 persen ke 23,1 persen, sementara EBITDA disesuaikan melonjak 83 persen menjadi Rp160,2 miliar dengan marjin naik dari 6 persen ke 10 persen. Rugi usaha menyusut 99,4 persen menjadi Rp0,38 miliar dari Rp68,40 miliar tahun lalu, hampir mencapai titik impas. Namun rugi periode berjalan masih tercatat Rp178,28 miliar, membaik 16,4 persen dari Rp213,20 miliar, dengan beban keuangan sebesar Rp172,7 miliar sebagai pos terbesar penyebab selisih antara laba operasi dan hasil bersih; rugi per saham membaik menjadi Rp15,86 dari Rp20,10.

Di sisi tata kelola, Robby Yulianto mengundurkan diri sebagai Komisaris Utama efektif sejak surat diterima 20 Mei 2026, dan Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada Juni 2026 mengangkat Widjanarko Brotosaputro sebagai Komisaris Utama baru, mendampingi dua Komisaris Independen, Charles D. Marpaung dan Maura Linda Sitanggang. Pada 4 Juni 2026, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan, Prof. dr. Taruna Ikrar, meresmikan fasilitas produksi injeksi steril Lini 3 dan gudang baru di PT Ethica Industri Farmasi yang disebut menggandakan kapasitas platform injeksi steril Perseroan. Produksi percobaan (pilot batch) dijadwalkan berjalan Juli hingga Desember 2026, dengan produksi komersial dimulai Januari 2027.